Ternyata, Gue Suka Kerja

blooggg

Gue baru sangat menyadari kalau gue ini suka banget kerja. Kayaknya, otak ini harus terus jalan, berfikir dan memberikan step by step apa yang harus gue lakukan setelah melakukan ini dan itu. Sebenarnya pernah sih temen sebut gue workholic ketika gue masih single, tapi setelah status berubah jadi ’emak’, sebutin itu sirna sudah.

Si bontot baru juga 2,2 tahun, tapi gue merasa ini waktunya gue melakukan sesuatu, bekerja!

Yup! Sejak melahirkan si bontot awal 2015 gue memutuskan untuk freelancer. Gue sekarang memang masih berstatus jurnalis di Tempo.co, tapi hanya kontributor alias freelancer.

Nah, sejak itu gue ngelaba menjadi media relation dan koordinator blogger. Jadi jika ada produk atau brand yang butuh promosi ke media atau blogger, gue yang handle.

Kerjaan gini sebenarnya udah lama banget gue tekuni, sejak awal gue menjadi wartawan di Harian Rakyat Merdeka. Mulai dari bantu-bantu temen yang bayarannya ‘terserah lu’, sampai kerja profesional yang bayaranya lumayan.

Ngelaba dari wartawan? Itu mah biasa, yang penting kerja utama gue nggak terbengkalai. Lagian media relation itu juga nggak setiap saat.

Baca Ini Juga :http://www.aliaef.com/2017/03/review-film-kong-skull-island-ada-yang.html:

Nah, sekarang ketika blogger lagi nge-hits dan gue sendiri nyemplung ke dalam, mulai gue hunting ke klien dan link gue selama jadi wartawan. Otak ini terus berputar siapa target yang bisa gue jadiin klien.

Beberapa bulan belakangan, ada beberapa temen yang mengajak untuk berkolaborasi. Gue selama ini, memang terbuka dengan siapapun yang ingin mengajak gue kerja bareng. Selama positif kenapa nggak.

Banyak temen yang ajak miting, di kafe ini, restoran itu, gue mah hayuk aja dengan harapan bukan PHP (pemberi harapan palsu). Mitingkan pake duit booo, ongkos, belum ngafe yang harganya nggak murcekan. Secara pemasukan bulanan nggak kayak duluuuuu, Lol

Tapi begitulah. Beberapa kali miting dengan beberapa teman, ada yang mandek, nggak ada kabar, atau lewat begitu aja dan ada yang nyangkut.

Ternyata, untuk membuat sebuah usaha, kita harus partneran sama orang yang statusnya sama kayak gue gini, freelancer. Pemasukan bulanan nggak jelas, nggak punya bos, nggak punya kantor. Kalau teman yang masih punya kerjaan inti, agak susah tuh kayaknya secara pikiran masih bercabang.

Akhirnya gue menggandeng sahabat gue sendiri yang sama-sama pernah jadi wartawan. Dia juga freelancer sebagai content writer dan ghostwriter.

Kita bareng mendirikan kantor ala-ala PR gitu, dikasih namanya aja kece Ratu Media Communications (RMC). Kita berdua adalah Ratu di bidang media dan komunikasi, ciee cieee, kira-kira begitu filosofinya.

aal-budut

Kita berdua sudah pernah menjadi trainer soal penulisan dan blogging. Nah, untuk media relation, beberapa kali ada perusahaan besar nih yang tertarik. Tapi lagi-lagi masih miting terus, belum fix. Tap gue udah happy banget, namanya mereka respon dengan tawaran proposal kita.

Gue inget banget, omongan teman yang juga membuat usaha begini. “Al, selama dua tahun gue bisa dibilang door to door mencari klien, akhirnya bisa seperti sekarang,” katanya yang sudah sukses sekarang ini.

Dapet klien! itu memang susah banget di tengah persaingan yang ketat.

Lalu bagaimana gue bisa mendapatkan klien?

Gue punya keyakinan sendiri. Begini:

Gue yakin, karakter, sifat, perlakukan dan hubungan baik itu mempengaruhi banget.

Alhamdulillah, sejak menjadi wartawan, narasumber memandang positif ke gue, teman-teman terbuka dan fun main sama gue. Selama ini gue selalu memandang orang positif, nggak berprasangka buruk, selama dia nggak nyowel gue, Insya Allah hubungan gue baik sama mereka.

Gue kasih conton begini.

Gue mendengar dari teman-teman wartawan kalau si A ini rese, nyebelin, ngeselin, sombong, dll. Sebagai bos dan produser dia itu otoriter. Praktis, yang lainnya ikutan sebel sama si A.

Kalau gue sendiri malah nggak. Selama si A nggak pernah nyowel dan rese-in gue, gue sih asik-asik aja sama dia. Gue tetap komunikasi baik, kadang kontak, dll. Dan ternyata, sikap gue seperti itu memberikan dampak baik.

Gue pernah mendapatkan job untuk membawa infotainment ke Bali untuk grandlaunching sebuah tempat hiburan kelas kakap. Yang punya konglomerat, bayaran gede dong. Nah, gue kontak si A minta turunin reporternya untuk meliput. Hasil liputannya kece, gue dikasih segmen lumayan banyak secara ratingnya besar.

See?

Begitu cara kerja gue untuk mendapatkan klien.

Memahami karakter orang. Ada orang yang suka pamer, big mouth dan merasa paling bener sedunia. Menghadapi orang seperti itu, kita cukup menjadi pendengar saja, bahkan kalau bisa puji aja terus pencapaian yang sudah dilakukan.

Menjilat? Nggak sih. Kalau memang dia melakukan itu, nggak ada salahnya dipuji, kalaupun dia pamer, memang sudah sifatnya dari sana, mau diapain lagi. Ngapain juga ikutan kesel sama dia. Selama dia nggak rese, kita asik-asik aja berteman.

Alhamdulillah, sampai sekarang job-job itu dapat dari teman sesama wartawan juga dan klien lama gue.

Tapi ada juga kok, tanpa gue tau kesalahannya apa, ada yang rese-in sampai gue dibilang yang nggak-nggak di antara teman. Dan beberapa ‘rejeki’ gue di cut sama dia (rejeki udah ada yang atur toh?). Nah, sama orang kayak gini mending gue mundur cantik. Intinya gue menjauhi konflik, kalau udah keterlaluan, baru gue tegor langsung.

Selain dengan RMC, ada teman lain juga mengajak membuat sebuah perusahaan agak-agak mirip RMC, tapi ini cakupan lebih luas karena dia sudah punya PT (ijin usaha). Cakupan luasnya misalnya event organiser. Ini, masih proses sih, nggak tau termasuk kategori PHP atau nggak, hahaha semoga nggak.

Karena gue suka banget sibuk bekerja, gue suka bergerak, suka mengatur, mengorganisir ini dan itu, ketemu klien, ketemu banyak orang dan berdiskusi. I Love Working actually! (walapun pikiran ini masih sering nyungsep ke rumah, alias mikirin anak, Lolls)

Nah, dengan banyaknya rencana kerja ini, gue happy banget. Gue seneng banget, hidup gue berguna, masih bisa aktulisasi diri.

Bukan berarti cuma menjadi ibu rumah tangga itu nggak berguna, itu sangat banget berguna. Tapi sepertinya jiwa gue bukan di situ. Kadang merasa dosa sih sama anak-anak, tapi gue mulai berfikir, gue bekerja demi mereka. Demi anak-anak gue untuk kehidupan lebih baik mereka. Ketika gue udah nggak ada, anak-anak gue nggak harus ngerepotin orang lain. Mereka mandiri karena gue, ibunya, sudah memberikan yang terbaik demi masa depan mereka. Udah gitu aja.

Semoga tulisan ini bermanfaat dan bisa memotivasi yang membacanya ya,
Wassalam
AAL

(Cerpen) Artis Infotainment

artis

OLEH   : Alia Fathiyah

Lolita menonton acara infotainment dengan serius. Perasaan iri terlihat jelas di wajahnya yang cantik. Matanya kadang berkedip ketika ada seorang artis belia yang muncul dengan pacar barunya. Mulutnya kadang manyun ketika ada pemain sinetron yang dikejar-kejar infotainment. Huh, kapan sih aku muncul di infotainment. Kayaknya asik dikelilingi wartawan dan kamera di mana-mana. Lolita membatin sebal. Sudah lima kali Lolita bermain sinetron. Perannya nggak kecil, menjadi pendukung bahkan pernah peran utama. Lolita juga di kontrak eksklusif di sebuah production house besar. Tapi belum ada satu pun infotainment yang mewawancarainya.

Lolita iri banyak artis seusianya yang wara-wiri di infotainment dengan menggandeng pacar baru. Mereka terlihat sok penting begitu kamera menyorot. Ada Adrian Aldi  yang selalu  menggandeng artis muda, bahkan sekarang digosipkan sedang pacaran dengan penyanyi Yulia Sihara, padahal dia janda. Punya satu anak lagi. Lalu ada Bunga Papilaya yang tiap muncul di infotaiment selalu dengan kisah gosipnya. Malahan, waktu putus sama pacar terakhirnya dia jelek-jelekin bekas pacarnya di infotaimen.

Kapan sih aku bisa masuk infotainment? Padahal aku nggak jelek-jelek amat. Kalau dibandingkan Bunga Papilaya, masih cantikan aku. Dia hitam dan pendek. Kalau aku masih lebih tinggi dan nggak hitam-hitam banget. Ada yang bilang wajah aku mirip Nikita Willy atau Putri Titian. Lolita bercermin sambil memutar tubuhnya.

“Lol, ayo berangkat. Dari tadi Pak Iis sms mama untuk ingetin kamu ada syuting hari ini. Kamu take pertama kali lho,” mama sudah muncul dengan membawa tas besar. Lalu menaruhnya di mobil.

“Skenarionya udah dikirim belum ma. Aku belum baca lho,” Lolita duduk di samping mamanya.

“Belum. Kata Pak Iis di sana aja. Makanya kita nggak boleh telat,” mama serius di belakang setir.

“Halah ma. Kayak bukan pertama kali syuting aja. Kemarin-kemarin kalau hari pertama molor sampai lima jam,” Lolita  memainkan BB (blackberry)nya.

“Iya Lol, tapi kita harus menunjukan ke Pak Leon kalau kamu serius main sinetron. Biar besok-besok Pak Leon kasih kamu peran lagi. Kata Pak Leon kamu di sini perannya banyak, seperti peran utama lho.”

Lolita tak menjawab. Dia sibuk membuka facebook dan mengomentari status semua temanya sambil senyam-senyum.

 

Lolita menyalami semua kru yang ada di lokasi. Para kru sedang sibuk menyusun kamera. Lalu Lolita sibuk membaca naskah yang baru diterimanya. Judul sinetron barunya, Cahaya Cinta. Aku di sini menjadi Pelangi, sahabatnya Cahaya. Yah, lumayan. Masih sering muncul sama peran utama. Jadi aku terus muncul di teve. Lolita tersenyum senang.

“Halo semua apa kabar…” Suara seorang cowok membuyarkan konsentrasinya. Lolita mendongak dan dia terbelalak melihat Adrian Aldi muncul sambil menyapa semua orang.

“Mbak Lolita, kenalin ini Adrian Aldi. Dia akan menjadi lawan main mbak di sinetron ini. Dia ini si Rendi, pacarnya Pelangi,” Pak Iis mengenalkan Adrian ke Lolita.

Lolita tersenyum sambil menyalami Adrian. Adrian mengeluarkan senyum mautnya, khas seorang playboy. Ternyata ganteng beneran euy, Lolita tersenyum dalam hati. “Kamu udah baca naskahnya? Kita take pertama lho,” Adrian duduk disamping Lolita  sambil membuka naskah di tangannya.

“Iya nih. Aku lagi hapalin takut ada yang lupa.” Lolita membuka lembaran naskah sambil melirik Adrian.

“Jangan dihapal. Di mengerti aja, yang penting nyambung sama yang di maksud. Improve juga nggak apa kok,” Adrian cuma membuka lembaran demi lembaran naskah tanpa membaca dengan serius. Lolita mengerutkan kening melihat Adrian yang meremehkan naskah yang akan dilakoninya.

Huh, dasar senior! Udah biasa akting jadi ngeremehin gitu. Lolita melirik Adrian yang tenyata sedang tersenyum kepadanya. “Aku  pernah lihat sinetron kamu. Kamu yang jadi Melati kan. Di sinetron religi Hidayah. Kelihatan beda sama sekarang karena kamu di sinetron itu berjilbab. Kamu masih SMP ya,” Adrian masih tersenyum.

Enak aja SMP. Lolita meradang. “Kelas 2 SMU. 16 tahun,” Lolita menjawab singkat. Lolita merasa tidak nyambung dengan Adrian yang sadar dirinya ganteng. Lama-kelamaan Lolita menjadi sebal dengan gayanya yang pecicilan.

“Hah? Udah SMU? Aku kira masih SMP, 14 tahun gitu. Cepet juga ya sekolahnya. Kamu imut sih,” Adrian senyum-senyum.

Lolita langsung muak dengan gaya tebar pesonanya Adrian.  “Kalau aku rencananya mau kuliah tahun ini. Tapi karena banyak banget kerjaan, kayaknya ditunda dulu. Hari ini aku nggak bisa lama-lama. Kepinginnya langsung take karena ada undangan temen di Dragon Fly. Ikut aku yuk.” Adrian menatap mata Lolita dengan lekat. Lolita merasa tidak nyaman.

“Wah, nggak deh. Terima kasih, aku syuting aja dulu. Aku lihat scene aku banyak banget nih.”

“Kamu harus eksis kalau mau terus dipake main sinetron. Entar aku kenalin di sana sama teman-teman, banyak artis ngetop.” Adrian beranjak dari duduknya begitu ada yang memanggil. “ Bentar ya.”

Lolita  menarik nafas panjang. Ternyata, Adrian yang ada di dalam bayangannya nggak sesuai dengan kenyataan. Cakep sih, ganteng. Tapi kok gayanya nyebelin ya. Lolita memandang Adrian yang sedang cipika cipiki dengan Sasila, pemeran utama Cahaya Hati. Sasila bisa dibilang ratu stripping yang selalu mencetak box office.

 

Sepulang sekolah, Lolita sudah ada di lokasi syuting. Digantinya baju seragam sekolah dengan kostum yang diberikan kru. Di sinetron ini Lolita menjadi gadis kampung yang selalu sedih. Cahaya Cinta sudah tayang sejak sebulan lalu. Lolita sudah menikmati perannya sebagai Pelangi.

Di ruang tunggu pemain, Lolita melihat beberapa artis dan kru sedang mengerubungi teve. Ternyata mereka sedang menonton infotaimen. Ada Adrian yang senyam senyum begitu muncul berita dirinya dengan Yulia Sihara.

“Bener nggak sih Dri, lo sama dia,” tanya Sasila.

“Adaaa Deeehhh….” Adrian menjawab dengan tengil. Lolita meninggalkan mereka yang sibuk membahas gosip artis yang ada di teve. Heran, jeruk makan jeruk, Lolita membatin sambil mengganti bajunya.

Keluar dari ruang ganti, Adrian dan Sasila masih membahas infotaimen dan gosip. “Kalau gue sih, nggak perlu gosip. Yang penting job terus datang dan sinetron gue ratingnya tinggi. Otomatis gue bisa dapat bonus dari Pak Leon,” kata Sasila.

“Nggak bisa gitu juga Sas. Kalau elo sering di gosipin, artinya elo sering masuk infotaimen. Job makin banyak datang. Lihat nih gue, tawaran film nggak pernah abis, belum lagi iklan minggu depan mau syuting di Bangkok. Terus ngemsi gue banyak banget. Kemarin aja ada produser yang nawarin gue bikin album rekaman. Pemasukan jadi tinggi,” Adrian mengatakannya dengan bangga. Lolita hampir muntah mendengarnya.

“Itu ada benarnya juga. Tapi dari pada aib gue di obok-obok, mending gue cari aman deh. Kalau nggak penting amat gue nggak mau muncul di depan infotaimen. Bikin trauma tau gak.”

Adrian menoleh ke Lolita yang sedang memperhatikan mereka. “Nih, anak baru. Mau muncul di infotaimen gak. Gampang, elo jalan saja sama gue pasti elo langsung di kejar-kejar infotaimen. Gue rela kok di gosipin sama elo,” Adrian tertawa yang disambut tawa Sasila.

“Lol, harus kuat mental kalau udah di gosipin. Gue kasih tahu ya, elo bakal nggak nyaman tidur. Karena mereka sudah nungguin di depan rumah sampai nginep segala. Ini pengalaman gue waktu di gosipin nikah siri. Gila kali, dapat info dari mana coba. Untung kebenaran cepat terkuak,” Sasila menjelaskan dengan semangat.

“Makasih deh, aku serius syuting dulu. Aku mau selesain tanggung jawab sinetron ini. Nggak enak sama Pak Leon kalau ada gosip soal aku yang nggak-nggak.” Kata Lolita tersenyum. Padahal di dalam hatinya yang paling dalam, dia kepingin sekali muncul di teve. Kayaknya keren dikerubungin sama wartawan dan kamera.

“Pak Leon itu produser paling asik. Dia malah senang kalau artisnya muncul di infotaimen. Artinya, sinetron dia bakal laku dan ditonton banyak orang. Percaya deh sama gue. Kalau elo minat, bilang aja ke gue. Oke? Gue cao dulu ya,” Adrian langsung membawa tasnya yang diikuti asistennya yang banci dan kelihatan sok penting .

 

Lolita membenamkan tubuhnya di atas sofa yang empuk. Sudah lewat tengah malam, dan Lolita merasa sangat letih. Hari ini scene Lolita sangat banyak, dan dia harus terus-terusan menangis. Kepalanya jadi terasa berat , matanya sembab dan Lolita hanya ingin cepat tidur. Tapi dia masih menunggu beberapa scene lagi baru bisa pulang.

“Sabar ya Lol, kamu masih tinggal 2 scene lagi. Setelah itu kita pulang. Kamu istirahat deh,” mama membelai kepala Lolita dengan lembut.

Lolita mencoba memejamkan matanya. Belum juga sepuluh menit, Lolita sudah dikagetkan dengan kesibukan para kru dan pemain di ruang ganti itu. Lolita terperangah begitu melihat banyak lampu yang menyorot ke dalam ruangan itu. Lho, ada apa nih. Kayaknya nggak ada scene di sini.

Lolita bingung ketika banyak wartawan infotaimen masuk ke dalam ruangan itu. Juga ada sutradara, asisten sutradara, para kru dan pemain berkumpul. Asisten Adrian yang banci juga tengah sibuk meredam suara orang-orang di ruangan itu. Lolita melihat Sasila memegang kue tart yang besar dan terlihat lilin angka 22 di atas kue itu.

Semuanya berdiri dalam diam di depan kamar di mana Adrian sedang istirahat. Asisten Adrian masuk ke dalam ruangan itu, dan tak lama kemudian dia keluar bersama Adrian yang sedang mengucek-ucek matanya.

“Surprise!!! Happy Birthday!!!” Seluruh orang yang ada di ruangan itu berteriak. Para infotaimen berebutan ke depan untuk menyorot wajah Adrian yang kebingungan dan kaget. Lalu semua orang yang ada di ruangan bertepuk tangan. Lolita ikut-ikutan bertepuk tangan sambil berdiri.

Lalu Adrian meniup lilin di atas kue itu sambil tersenyum. Ia memotong kue pertamanya dan melihat ke sekeliling ruangan. Lalu ia berjalan ke arah Lolita dan memberikan kue itu.

Infotaimen langsung menyorot Adrian dan Lolita. Lalu tanpa basa-basi Adrian cipika cipika ke Lolita yang terhenyak kaget.

“Cium! Cium! Cium!”  Seluruh orang di ruangan itu menyoraki Lolita. Lolita bingung melihat banyaknya lampu menyorot ke arahnya. Lalu dengan pasrah mencium  pipi Adrian dengan singkat. Tepuk tangan bergema di ruangan itu dan beberapa kru tertawa maklum.

Setelah itu semua infotaimen  menyodorkan microphone ke hadapan Lolita dan Adrian. “Pacar baru ya Dri. Kapan jadiannya? Ayo kenalin dong ke kita-kita..” serentetan pertanyaan diajukan wartawan infotaimen ke arah Adrian dan Lolita. Lolita malah menjadi gagap dan tak bisa berkata apa. Senyumnya terlihat dipaksakan.

“Iya, ini pacar baru gue. Namanya Lolita. Bisa dibilang kita cinlok karena kita pacaran di sinetron ini,” Adrian dengan lancar menjawab semua pertanyaan wartawan. Sedangkan Lolita terbelalak kaget mendengar pernyataan Adrian. Gila apa ini anak. Waduh..aku nggak siap seperti ini.Lolita bingung ketika microphone ditujukan ke arahnya.

“Sudah berapa lama pacaran sama Adrian? Adrian kan playboy, kok mau sih pacaran sama dia,” pertanyaan yang di luar dugaan makin membingungkan Lolita. Adrian yang melihat itu langsung mengambil alih.

“Kita dekat masih baru, pas mulai sinetron ini aja. Kata siapa gue playboy? Jangan bikin dia takut dong..” Tiba-tiba Lolita merasa tangan Adrian melingkar di bahunya. Apa sih maksudnya?

“Lalu bagaimana hubungan kamu sama penyanyi Yulia?”

Lolita melirik Adrian yang tersenyum. “Dia selama ini saya anggap kakak. Karena saya nggak punya saudara perempuan, Yulia orangnya lembut. Dan saya merasa nyaman sama dia.”

Microphone kembali ke arah Lolita.  “Ngomong Lol, kita kan mau dengar kamu ngomong.” Seorang wartawan infotaimen bertanya kepadanya.

“Hhmm… iya. Adrian anaknya baik, kita kalau ngomong nyambung. Dia anaknya asik kok.”

“Trus, hubungan ini serius? Kedua orang tua udah saling kenal nggak. Apa ada niat menikah muda?”

Apa sih maksud pertanyaanya. Basi banget. Lolita sudah hapal dengan jawaban artis yang sering ditontonnya ketika diberikan pertanyaan seperti ini. Apa semua artis ditanya sama ya.

“Ya ampun mbak. Kita masih muda, aku aja masih 16 tahun. Belum ada ke arah sana,” Lolita sudah tersenyum semanis mungkin. Dia mengingat-ingat ketika latihan senyum di depan cermin jika ada infotaimen yang mewawancarainya. Ternyata begini rasanya masuk infotaimen . Ada kepuasan tersendiri yang dirasakan Lolita.

“Terima kasih ya, mas-mas dan mbak-mbak. Maaf ya, sudah malam. Lolita dan Adrian harus take lagi. Terima kasih sudah mau datang,” tiba-tiba suara Pak Iis menyelesaikan wawancara. Para kameramen mematikan lampu, mike ditarik. Lolita menghela nafas panjang. Dia merasa sudah melewati tanjakan yang curam dan berhasil sampai di puncak.

“Lol, minta nomor handphonenya.” Beberapa wartawan siap mencatat nomor ponselnya. Sedangkan Adrian senyam-senyum memperhatikannya. Setelah semua infotaimen keluar ruangan, Lolita menghampiri Adrian.

“Maksudnya apa Dri, ngomong di depan infotaimen kalau kita pacaran. Kamu nggak konfirmasi ke aku dulu.”

Adrian mencolek pipi Lolita dengan lembut. “Sori. Abis tadi aku bingung mau ngomong apa. Tadi masih kaget bangun tidur udah di kasih surprise.”

“Tapi ini bakal panjang masalahnya Dri. Dan ditonton semua orang. “

“Santai saja. Aku yang tanggung jawab.” Adrian masuk kembali ke ruangannya. Tinggal Lolita yang cemberut.

 

Dering handphone membuyarkan lamunan Lolita. Lolita  masih shock dengan pemberitaan di infotaimen yang berbeda dengan yang diwawancarai tadi malam. Apa aku salah ngomong? Masa aku dibilang udah tunangan sama Adrian.

“Halo..”

“Ini Lolita?” Sebuah suara lembut dari seorang wanita menyapanya.

“Iya, ini siapa ya.”

“Saya Yulia Sihara. Pacarnya Adrian.” Lolita kaget setengah mati.

“Apa benar kamu tunangannya Adrian?” Suara Yulia yang lembut justru bikin dada Lolita deg-degan. Ya ampun, ada apa lagi ini. Kenapa Yulia telpon aku.

“Aduh mbak, maaf. Itu salah pemberitaanya. Mbak Yulia udah ngomong ke Adrian belum. Tadi malam itu cuma spontan aja, nggak ada yang pacaran apalagi tunangan. Aku aja kenal Adrian pas di sinetron ini.”

Lolita mendengar Yulia tertawa lembut. “Aku tahu. Aku kenal siapa Adrian. Kita ketemuan yuk. Aku mau ngobrol sama kamu. Di Citos siang ini bisa?”

Lolita mengingat-ingat jadwal syutingnya hari ini. “Aku ada syuting jam 5 sore. Ketemu jam 1 bisa mbak?”

“Oke. Ketemu di sana ya. Bye.”

 

Lolita takjub melihat kecantikan Yulia. Meski sudah memiliki anak, tubuh Yulia masih langsing dan bagus. Wajahnya juga mulus dan kulitnya bening. Pakaiannya  selalu sesuai dengan tubuhnya yang mungil. Sepertinya Yulia tahu dimana kelebihannya sehingga selalu pas memilih baju. Lolita jadi minder mengingat dirinya jarang sekali ke salon.

“Kamu cantik.” Yulia tersenyum.

“Mbak Yulia yang cantik. Awet muda banget sih mbak.” Wajah Yulia langsung berseri.

“Bagaimana rasanya syuting sama Adrian. Rame kan orangnya,” tanya Yulia sambil meminum orange juice. Lolita tersenyum mencoba mencari makna dari pertanyaan itu. Apakah cemburu?

“Iya. Kalau nggak ada dia di lokasi kayaknya sepi. Anaknya juga asik kok. Maaf ya mbak, dengan pemberitaan kemarin. Aku jadi nggak enak nih,” wajah Lolita terlihat menyesal. Tapi Yulia malah menyentuh tangannya dengan lembut.

“Aku tahu. Aku udah biasa menghadapi infotaimen. Adrian juga sudah cerita semuanya. Santai saja Lol, aku hanya ingin kenal kamu lebih dalam.” Wajah Yulia yang tadinya tersenyum langsung terdiam. Lolita mengikuti arah pandangan Yulia. Ya ampun, di luar kafe beberapa infotaimen sedang menyorotkan kamera ke arah mereka berdua.  Bahkan mereka masuk ke dalam kafe dan mulai mengarahkan kamera dan microphone ke mereka berdua.

“Lho, mereka tahu dari mana kita ada di sini?” Wajah Lolita bingung dan panik.

Yulia langsung menggandeng tangan Lolita ke luar kafe. Yulia terlihat santai dan sudah biasa menghadapi infotaimen.

“Mbak Yulia, wawancara dulu ya. Ada apa nih ketemu Lolita disini..Lol, kamu dilabrak Yulia ya..”

Hah? Dilabrak? Gila kali, waduh kok jadi rumit begini sih. Lolita pasrah saja ketika Yulia terus menarik tangannya keparkiran. Lalu Yulia masuk ke dalam Alphard hitam miliknya.

“Masuk Ta, aku anter kamu ke lokasi.” Yulia bicara dengan tegas sehingga Lolita tak bisa menolak. Mobil Yulia langsung melaju kencang begitu infotaimen menyorotkan kamera ke arah mobilnya. Wajah Lolita terlihat pucat dan bingung. Lolita sempat melihat wajah Yulia yang memerah. Marahkah dia denganku?

“Kamu besok jangan kaget kalau ada pemberitaan macam-macam diinfotaimen. Aku sudah  bisa menebak berita apa yang akan keluar besok. Aku letih Lol menghadapi mereka. Kalau sedang kesal, di depan mereka kita harus banyak senyum. Kalau kita terlihat marah sedikit, beritanya akan keluar berbeda dibantu dengan narasi,” Yulia menghela nafas panjang sambil menyenderkan tubuhnya.

Sopir Yulia membelokkan arah mobil ke dalam studio. “Lol, aku nggak bisa anter kamu. Aku yakin pasti ada infotaimen yang sedang menunggu. Kamu masuk ngumpet-ngumpet aja ya.” Yulia menyentuh wajah Lolita lembut. “Sabar Lol, ini akan menjadi makanan sehari-hari setelah kamu jadi artis.”

Lolita menganggukan kepalanya. “Aku minta maaf mbak kalau ada yang salah. Makasih banyak ya mbak.”

Lolita langsung berlari masuk ke ruangan begitu melihat sebuah mobil infotaimen ada diparkiran. Lolita duduk disebuah ruangan mengatur nafasnya yang terengah-engah.  Tak ada didalam  bayangannya akan seperti ini diberitakan menjadi orang ketiga dalam sebuah hubungan. Padahal dia hanya sekedar iseng dan ingin tahu rasanya masuk infotaimen. Lolita menyapu keringatnya, debaran di dadanya masih bergemuruh. Sampai kapan gosip ini hilang? Apakah aku akan terus dicap sebagai perusak hubungan orang? Oh tidakk…

SELESAI

Medio 2011

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ayo Nge-Blog untuk Wanita Tani Indonesia

wanniitaa

Menjadi pengisi materi tentang dunia per-bloggingan kok jadi bikin nagih. Padahal, kalau mau dihitung secara materi, itu nggak seberapa. Tapi saya senang bisa berbagi ilmu blogging kepada yang membutuhkan, meski saya terbilang masih pemula. Melihat mereka yang nyimak dan bertanya, kayaknya excited banget.

wanitataani

Tawaran untuk berbagi ilmu blogging itu datang lagi pada 22 November 2016 lalu. Seorang teman meminta saya untuk mengajak ibu-ibu Pengurus Wanita Tani Indonesia di Gedung Arsip, Kementerian Pertanian, Ragunan Jakarta. Saya bersama, sahabat saya, Tantri menjadi nara sumber di sana. Yup! Saya dan Tantri adalah duo Ratu Kuli Tinta. Lol

wanitahkti

Saya nggak menyangka, ibu-ibu yang hadir itu sepertinya kebanyakan usia yang sudah pensiun. Tapi mereka memiliki semangat untuk belajar. Dan di luar sebagai pengurus Wanita Tani, mereka juga memiliki profesi lain. Ada yang menjadi staf ahli di DPR, ada yang menjadi advokat di sebuah law firm, ada yang memiliki sekolah TK dan usaha kuliner di kawasan Menteng Jakarta, ada yang menjadi pebisnis sebuah produk kecantikan dan sudah di posisi milionaire, dan masih banyak lagi.

Menariknya, di sela-sela pembicaraan, mereka kritis bertanya apapun yang mereka nggak ngerti. Terus yang bikin senang, mereka catet dan foto lho materi yang saya berikan. Tapi akhirnya, saya kirim saja materi tersebut ke email mereka.

wanita-tani

wanitatani2

Oiya, sepertinya dunia itu kecil ya. Ternyata kapten dari acara workshop blogging itu adalah ibu Sharmila. Saya kenal beliau ketika diminta teman untuk menjadi koordinator blogger di peluncuran Aero-Sahara Travel, Juni lalu di Gedung Smesco. Pokoknya ibu-ibu ini kece bangeettt.

img_20161122_123926

Berbicara di depan ibu-ibu itu harus jelas, detail dan sabar. Kebanyakan pertanyaan mereka, apa bedanya blog dengan Facebok? Atau apa bedanya dengan media web? Pertanyaan yang wajar, hampir semua orang yang saya temui pertanyaan tidak jauh dari itu.

Setelah selesai, saya diminta bikin blog, Wanita Tani Indonesia. Satu persatu mereka menyodorkan handphone karena nggak ngerti cara buka gmail dan blogspot. Lol.
Anyway, semuanya menyenangkan dan seru. Saya jadi punya banyak kenalan baru. Semangat positifnya itu harus ditiru.

Ayo kita nge-blog!

Alia Fathiyah

 

 

Rasanya Isi Materi Yuk Nge-Blog untuk SMAN1 Boedoet Jakarta

 

budut3

Mengisi materi di depan orang banyak, ini pertama kalinya yang saya lakukan. Tidak semua orang memiliki kemampuan public speaking. Melihat orang bicara di depan audience, kayaknya enak aja gitu, lancar dan mengalir seperti tak ada halangan.
Ketika seorang teman, Tantri meminta saya untuk mengisi materi soal dunia per-blogingan-untuk almamaternya, SMAN1 Boedoet dalam rangka Bulan Bahasa, saya langsung mengangguk setuju.

aal-budut
Itung-itung tes mental dan cari pahala berbagi ilmu, gitu pikiran saya, tul gak. Untuk ngeblog saya memang masih pemula, belum juga 2 tahun. Tapi ketika seorang teman minta tolong dan niat ingin berbagi siapa sih yang bisa nolak.
Lalu untuk mempersiapkan diri saya mulai berselancar di dunia maya, kembali membaca, materi apa saja yang perlu dibagikan kepada anak SMA. Yang pasti sih soal duit. Dari nge-blog bisa menghasilkan duit. Pasti bakal semangat anak-anak ABG itu, yakan?
Karena ini pertama kali, saya mulai latihan ngomong sendiri tuh. Lagi nyetir sendiri, ngomong. Lagi ngaca, ngomong. Lagi ngemong anak, juga ngomong ahahaha.

Pengalaman ngomong di depan orang banyak, minim banget. Paling nggak dulu, diminta Tina Toon untuk ngemsi di peluncurann albumnya. Itu juga yang hadir temen-temen sendiri. Tapi menurut saya, public speaking itu yang penting mental!

budut2

budut7
Lalu tibalah saat yang ditunggu. DI ruang pertemuan Beodoet (Ini sekolah kece banget lho, dengan bangunan jadoel, ditata sedemikian rupa. Jadi terlihat rapi, bersih, banyak pohon dan bunga. Sukak liatnya). Sekitar 60-an anak kelas 1-2 SMA sudah duduk manis, memandangi saya dan Tantri kebingungan dengan proyektor canggih nan besar itu. ( di bagian ini, berasa kita makin tua hahahah. Gimana nggak, waktu belum dimulai, itu screen bisa berganti page cuma lewat sentuhan, pas materi sudah berjalan, tiba-tiba screennya ngambek. Udah gue sentuh sepenuh hati, dia tak bergeming, Lolss).
Alhamdulillah, pemberitan materi yang saya beri judul Yuk Nge-Blog berjalan lancar jaya. Saya pro aktif dengan jalan ke tengah ruangan dan menyodorkan pertanyaan ke mereka. Mereka juga sigap menjawabnya, meski khas anak ABG kalau ditanya jawaban setengah (mirip anak gue nih, Lols).

budut6
Apalagi ketika mereka tahu, dari nge-blog bisa menghasilkan uang (monetize). Langsung pada semangat. Semoga materi yang saya berikan ada manfaatnya. Makasih ya Bodoet!

Alia Fathiyah

(CERPEN) ANITA

anita-cer

Anita termangu membaca headline sebuah koran metropolitan yang bertajuk Para Siswi SMP Jakarta Tertangkap Menjajakan Diri di MalCara ABG Menjajakan Diri: Nongkrong di mal-mal, lewat mucikari dan lewat situs internetModus di Mal: Nongkrong di kafe, Pura-pura belanja, Nongkrong dekat eskalator dan nongkrong di dekat deretan ATM.

Wajah Anita serius membaca satu persatu berita yang ada di koran itu. Lalu dihembuskan nafas panjang seakan ingin mengeluarkan beban yang memberatinya. Anita berjalan ke arah lemari di mana ada cermin di sana. Dicermati postur tubuhnya yang mungil, kulitnya yang coklat dan wajahnya yang biasa saja. Bertengger kaca mata minus dan rambut panjang sebahu yang lurus. Tubuhnya bisa dibilang kerempeng.

Apa ada yang mau melihat aku jelek seperti ini? Apakah mereka tertarik melihat aku? Anita membatin.

Lalu kembali diambilnya koran tersebut dan kembali dilihatnya. Anita terihat ragu. Sudah sebulan bulan belakangan Anita resah melihat kehidupan keluarganya selalu dikelilingi kemiskinan. Ibunya selalu marah-marah karena letih menjadi tukang cuci. Jika di rumah, Anita selalu menjadi tumpahan kemarahan ibunya yang juga stres karena ditinggal ayah Anita tanpa uang sedikitpun.

Anita juga muak dengan lingkungan sekolahnya yang selalu nge-gank. Kumpulan anak orang kaya, kumpulan anak pintar dan kumpulan anak gaul. Sedangkan dia? Menjadi kelompok marginal yang tak pernah dianggap.

Dua minggu lalu Anita pernah mendengar pembicaraan temannya yang masuk genk anak gaul. Ria, Dora, Sita dan Baby. Di belakang sekolah mereka cekikikan sambil bercerita yang menegakan bulu kuduk Anita.

“Gila lo, pasti nggak bakal nyangka. Kemarin si mami kasih gue om yang royal banget. Ini ke dua kali gue dipake dia. Dan elo liat sekarang, gue di beliin hanpdhone terbaru. 4 juta ni bo,” Ria memamerkan handphonenya yang berwarna pink. Teman-temannya terbelalak.

“Hebat lo Ri. Beruntung lo! Gue cuma dapat 300 ribu doang. Standarlah. Ntar gue minta mami kasih om tajir kayak elo begitu,” suara Sita terdengar iri.

“Sabar Sit. Lo kan masih baru, jadi uang lo belum cukup beli hp begini. Santai aja,” Dora tertawa sambil mengedipkan mata kea rah Ria yang dibalas dengan cengiran.

“Iyaa.. yang senior….udah tajir.. Nyokap bokap elo udah curiga belum,” suara Baby terdengar.

“Nggaklah. Gue kan jago bersandiwara. Artis gitu loch..” Dora tertawa bangga.

Anita yang menguping terbelalak kaget dan langsung ngacir.

BUK! Buk! “Anitaaa…..jangan tidur aja kamu…bangunnn.. Bantu ibu…”

Anita tersentak. Ibunya menggedor pintu kamar dengan sekuat tenaga. Langsung dilipatnya koran dan membuka pintu kamar. Wajah ibunya terlihat letih. Meski usianya masih 40 tahun, guratan keletihan sangat terlihat jelas. Anita mengeluh di dalam hati.

“Kamu tidur terus. Pemalas! Bantu ibu nyetrika!!” Ibu berteriak sambil menunjuk ketumpukan baju di pojokan ruangan.

“Ibu jangan marah-marah terus kek. Aku akan bantu..” Anita menggerutu melihat ibunya matanya melotot.

“Kamu nggak ngerti! Ibu ini capek dari pagi nyuci. Cari uang untuk bayar sekolah kamu! Kamu ngapain? Cuma sekolah, makan, tidur..” Ibu Anita langsung mengambil setumpuk cucian dan menaruhnya di depan Anita.

“Nih, kamu setrika. Ibu mau ke rumah Ibu RT.”

Anita bergumam kesal. “Nanti aku akan kerja bantu ibu..”

Ibu Anita yang sudah berjalan langsung berhenti dan menoleh. “Kerja apa kamu? Anak ingusan mau cari kerja! Sarjana pada nganggur. Kamu lagi masih SMP mau kerja.” Ibu Anita menggerutu dan ke luar rumah.

 

Anita berjalan perlahan sambil menunduk. Bel pulang sekolah sudah berbunyi 10 menit yang lalu. Kepalanya mendongak ketika mendengar beberapa temannya sedang tertawa gembira. Di depannya dilihat Dora, Sita, Baby dan Ria sedang menunggu taksi. Anita langsung berhenti. Sebuah rencana langsung menggelayuti kepalanya.

Setelah ke empat temannya itu naik taksi, Anita langsung menyetop angkot yang lewat di depannya. Dia berhenti di sebuah mal yang lumayan jauh dari sekolah. Mata Anita langsung mencari empat sosok temannya. Jantungnya berdegup ketika melihat mereka sedang berbicara dengan seorang pria muda yang terlihat kebanci-bancian. Ke empat temannya sudah berganti baju. Mereka terlihat seksi dan berani. Mengenakan rok pendek dan celana pendek. Wajah mereka juga di make up. Tak terlihat sekali kalau mereka anak SMP.

Anita melihat Dora melambai ke seseorang. Dora menjauh dan mendekati seorang pria yang tak jauh dari eskalator. Anita memperhatikan satu persatu temannya yang berpisah. Mata Anita juga jelatan memperhatikan eskalator, dan tempat ATM. Benar apa yang aku baca di koran. Banyak anak perempuan yang mangkal, Anita berkata dalam hati.

Rata-rata anak gadis itu mengenakan baju kasual.  Tak seperti perempuan nakal, tapi gesture mereka seakan mengundang pria yang melirik. Selama dua jam, Anita memperhatikan gerak-gerik ABG yang mangkal di mal. Rencana baru kembali bergelayut di kepalanya. Anita pulang ke rumah dengan kepala yang penuh akan rencana baru.

 

Sudah lewat tengah malam. Tapi mata Anita sulit terpejam. Badannya dibolak balik dengan resah. Diliriknya baju yang digantungnya di lemari. Sesorean tadi, Anita sibuk memilah baju yang akan dikenakannya untuk besok. Tak ada satupun baju yang layak dipakai ke mal. Celana jeans yang dimilikinya sudah belel dan ketinggalan tren. Kaosnya juga sudah agak lusuh.

Ada satu baju bekas lebaran kemarin. Meski modelnya juga tidak trend dengan warna ungu, tapi Anita sudah mencobanya dan lumayanlah dari pada tidak. Anita juga mencoba memakai lipstik ibunya yang sudah mau habis. Warnanya sangat merah. Wajahnya jadi terlihat tua dari usia yang sebenarnya.

Dada Anita bergemuruh jika mengingat kenekatannya untuk datang ke mal dan bergabung dengan ABG lain. Apakah ini jalan pilihanku? Apakah ini jalan yang benar? Tapi inikan dosa…Batinnya terus berkecamuk sehingga Anita letih dan matanya terpejam.

 

Anita melangkah ragu keluar dari toilet mal. Seragam sekolahnya sudah dilepas dan diganti dengan jeans serta kaos berwarna ungu yang dipilihnya. Rambutnya yang lurus dibiarkan tergerai. Anita memoleskan tipis lipstik milik ibunya. Sejak semalam Anita sudah berlatih bagaimana mengatur mimik wajahnya sehingga terlhat pede dan cantik.

Anita pura-pura masuk ke sebuah toko baju. Dia sok sibuk mencari-cari kaos. Hatinya berdesir begitu melihat harga baju yang menurutnya mahal. Cuma kaos saja lima puluh ribu?

“Ih, murah banget. Cuma lima puluh ribu. Kemarin gue lihat kayak gini persis tujuh puluh lima ribu di mal sebelah. Di sini murah banget ya,”Anita menoleh. Dia melihat dua gadis seumurannya sedang sibuk mencari-cari baju.

“Kan gue bilang dari tadi. Lo belanja di sini aja. Lebih murah,” kata temannya yang satu.

Anita memperhatikan keduanya dari ujung kaki hingga rambut. Semua yang dikenakan gadis itu terlihat mahal dan baru. Belum lagi ponsel mahal yang mereka genggam dengan gaya. Anita mendadak minder.

Kedua gadis itu menoleh melihat Anita dan mereka berbisik sambil tersenyum sinis. Tatapan mata mereka meremehkan penampilan Anita. Anita langsung keluar toko itu. Wajahnya terasa panas.

Dihampirinya deretan mesin ATM. Dia melihat ada dua gadis berdiri di sana. Seperti pura-pura ingin mengambil duit di ATM. Apakah mereka sedang mencari mangsa? Anita melirik kedua gadis itu. Yang satu mengenakan rok pendek, malah sangat pendek. Dengan baju seksi yang memperlihatkan punggungnya. Sedangkan yang satu lagi masih lebih sopan. Celana pendek yang dipadukan dengan kaus berleher Sabrina.

Anita pura-pura sibuk mencari dompetnya. Wajahnya dipasang sedemikian pede. Sudah lima menit berdiri di situ, Anisa merasa ada dua pria setengah baya meliriknya sambil senyum. Anita mencoba membalas senyum mereka.

Kalau mereka menghampiriku, apa yang harus aku lakukan? Belum selesai berfikir Anita sudah dikejutkan dengan sapaan seorang wanita di sampingnya.

“Halo sayang…” Anita menoleh. Wanita setengah baya dengan dandan menor memberikannya senyum. Anita membalasnya dengan ragu.

“Ikut mami yuk..”wanita itu memegang tangan Anita dengan lembut dan menariknya.

“Hhh.. kemana..” Anita mengikuti saja tanpa daya. Wajahnya kebingungan.

Mereka masuk ke sebuah kafe. Anita ikut saja dan duduk di sebelah wanita itu. Wanita itu langsung memesan minum untuk Anita. Setelah itu, si wanita memandang Anita dengan lembut sambil tersenyum.

“Kamu yakin mau seperti ini?”

Anita gelagapan…”Maksud tante…”

“Panggil saya mami. Jujur saja sayang. Mami tahu kamu sedang apa di sana…” si mami memegang wajah Anita dengan lembut.

Anita menunduk. Jantungnya berdebar kencang.  “Umur kamu berapa?”

“14 tahun..”

“Kamu tahu akibatnya kalau kamu berhubungan intim di bawah umur? Kamu bisa terkena kanker rahim sayang. Bagaimana kalau hamil? Kamu bisa keguguran karena rahim kamu belum kuat, dan efeknya justru semakin parah. Kamu bisa mandul. Lalu kalau kamu hamil, bagaimana? Aborsi? Itu namanya pembunuhan, ”wajah mami serius.

Anita menunduk semakin dalam. Raut wajahnya terlihat semakin ragu.

“Kalau kamu yakin, mami punya kenalan yang bersedia bayar 5 juta. Kamu belum pernah kan sebelumnya?”

Anita mendongak. Senyum kecil mampir di wajahnya. Pikirannya sudah tertuju uang 5 juta.

Mami melihat senyum itu semakin semangat menawari Anita. “Nama kamu siapa?”

“Anita..”

“Oke Anita. Kalau kamu mau, mami telpon teman mami itu. Setelah itu kamu bisa bawa pulang 5 juta. Tapi sebelumnya kamu harus ganti baju dulu. Baju kamu sudah kuno.”

Mami membuka tasnya. Di dalam tas itu, Anita melihat beberapa baju warna-warni dan rok serta celana pendek. Mami mengambil satu baju berwarna biru. Potongannya terlihat seksi, di  bagian dada agak rendah.

“Toilet di belakang. Kamu ganti di sana ya..”

Anita mengangguk nurut dan berjalan ke belakang. Begitu Anita pergi, mami langsung mengambil ponselnya dan mulai menelpon dengan wajah serius.

Tangan Anita sibuk menarik  bajunya agar menutup dadanya. Baju itu begitu seksi dan Anita sedikit pangling dengan penampilannya. Mami tersenyum melihat Anita datang.

“Kamu seksi kan. Harusnya kamu nggak usah pakai kaca mata. Tapi nggak apa-apa. Besok kalau sudah ada uang kamu bisa pakai soft lens,” mami tersenyum lagi.

Anita tersenyum senang. Sudah sejak lama dia menginginkan soft lens. “Mata kamu bagus, alis kamu juga. Kalau pakai soft lens kecantikan kamu jadi keluar.” Mami terus memuji meski di kepalanya tersimpan rencana.

Anita semakin senang. Baru sekali ini ada yang memujinya.  “Yuk..” mami menarik tangan Anita.

“Kemana mam..”

“Orangnya nggak mau ketemu di sini. Katanya ramai, jadi kita samperin aja ke apartemennya.”

Anita mengikuti tanpa banyak bicara.  “Orangnya royal Nit. Kalau kamu bikin dia seneng, kamu pasti akan dikasih lebih. Dia langganan VIP mami,” mami bercerita. “Nanti kamu, mami anter ke sana. Mami akan tunggu di lobi, kamu naik sendiri ke kamarnya.”

Anita menoleh spontan. Wajahnya ragu.  “Aku sendiri ke atas? Kenapa nggak mami anter aku sampai ke kamarnya..”

Mami menatap wajah Anita lalu mengangguk. “Oke, setelah itu mami akan tunggu di lobi bawah. Kamu ikuti apa kata dia.”

Di sebuah  apartemen lantai 20, mami mengetuk sebuah kamar. Pintu kamar dibuka dan seorang pria setengah baya sudah di depan kamar sambil tersenyum. Dia mempersilahkan Anita dan mami masuk.

“Ini Anita? Kamu cantik….” pria itu memuji Anita sambil tersenyum ramah. Anita hanya diam. Lalu mami dan om itu pergi ke ruangan lain. “Dapat anak baru dari mana lagi mam..” Si Om tersenyum sambil menyerahkan amplop yang berisi uang.

“Pokoknya om tenang saja. Pelayanan dari mami selalu memuaskan. Ini sudah 20 juta?” Mami membuka amplopnya.

Si Om mengangguk. “Oke, mami percaya om. Mami tunggu di lobi bawah. Dia masih baru, jadi pelan-pelan lah…” Mami tertawa senang.

“Tenang saja mam, ini bukan pertama kali kan…”

Mami keluar kamar. Sedangkan Si Om menghampiri Anita sambil tersenyum. “Mau minum apa Anita. Juice ya…” Si Om menghampiri kulkas. Anita hanya mengangguk. Dia merasa asing di tempat itu.

“Anita.. kita minum di kamar yuk…”

Anita mengikuti saja. Anita duduk di pinggir tempat tidur. Kamar itu terlihat mewah dan sejuk. Si Om menghampiri Anita dan duduk disampingnya. Anita hanya diam. Lalu Si Om mulai memegang tangan Anita dengan lembut, kaca mata Anita dibukanya.  Anita hanya terdiam dan pasrah….

 

Sepuluh menit kemudian, mami dikagetkan dengan sosok Anita yang keluar melewati lobi sambil berlari kencang. Bersamaan dengan itu, handphone mami berbunyi. “Ada apa om..”

“Anak kurang ajar! Baik om, saya akan ke atas.” Mami mematikan ponselnya sambil menuju lift dengan wajah geram..

AAL

Inspired by Harian Warta Kota

Medio 2010 (Teen Magazine)

cer

(CERPEN) Surat Ketujuh

surat

Nuri memberikan sebuah surat bersampul pink ke Erik. Ini surat ke tujuh yang dititipkan Lita untuk diberikan ke Erik, cowok incerannya. Wajah Nuri terlihat bete. Erik menerimanya dengan wajah berseri tapi langsung menoleh begitu melihat Nuri yang cemberut.

“Tumben lo bete gitu. Biasanya paling seneng jadi pembantunya Lita.’’

Nuri mengerling sebal. “Kenapa sih elo berdua nggak pake sms atau email. Jadul amat sih surat-suratan.”

“Yee elo nggak tahu sih nikmatnya surat-suratan. Beda kalau pakai email atau sms. Tambah deg-degan, bikin gue bisa baca puluhan kali. Tulisan tangannya itu yang bikin gue merasa selalu dekat dengan dia,” Erik cengar-cengir. Tapi langsung terdiam begitu melihat Nuri yang cemberut.

Selama tujuh kali menerima surat dari Nuri, Erik merasa ada yang berbeda dari Nuri dan Erik merasa makin akrab dengan gadis kurus itu. Selama ini, Erik menganggap Nuri cewek biasa yang jauh dari popular di sekolahnya. Kurus, tidak cantik dan tidak seseksi Lita. Pandangan Erik menjadi lain selama tujuh kali  bertemu terus menerus dengan Nuri.

Cewek ini beda sama Lita. Ada yang menarik yang nggak bisa gue sebutkan. Ah, gila. Kok, gue jadi mikir ngawur begini sih, Erik membatin dan tergagap begitu beradu pandang dengan Nuri.

Dada Nuri langsung berdesir begitu menoleh ke Erik yang sedang memperhatikannya. Erik dan Nuri jadi salah tingkah. Nuri langsung berdiri dan pergi tanpa sepatah katapun. Sedangkan Erik hanya memandangnya dari kejauhan.

 

Nuri membolak-balik tubuhnya. Malam itu mata Nuri sulit sekali terpejam. Wajah Erik dan tatapan matanya yang tak bisa di ungkapkan terus bermain di kepalanya. Erik memang tampan. Bahkan paling tampan di sekolah. Ikut basket, ikut OSIS, orang kaya dan banyak banget penggemarnya. Seandaianya… dia suka aku. Apa arti tatapannya itu?Ah, ngaco. Siapa gue? Erik tahu gue cuma orang suruhannya Lita. Gue Cuma dijadiin bulan-bulanan Lita supaya bisa ikut genknya dia yang popular. Gue nggak kaya, gue nggak cantik, apa kelebihan gue?

Nuri menarik nafas. Seandainya gue sejajar sama Lita dan cewek popular lain di sekolah, gue pasti berani bersaing untuk mendapatkan Erik. Ah, ngaco lagi. Nuri tak bisa menahan kalimat saling sahut menyahut di kepalanya. Akhirnya Nuri tertidur.

 

Di sebuah rumah mewah, seorang cowok tampan sedang menatap langit kamarnya. Erik bingung, sejak bertemu dengan Nuri tadi siang pikirannya tak bisa lepas dari gadis sederhana itu. Erik merasa menemukan kenyamanan jika berada dekat dengan Nuri. Tujuh kali bertemu karena surat dari Lita, semakin mengenalkan sosok Nuri di mata Erik.

Nuri sangat berbeda dengan Lita. Nuri sederhana, Nuri pintar dan Nuri seakan memberikan magnet bagi Erik untuk terus dekat. Nuri membuat aku nyaman dan damai, bisik hati Erik. Erik  tertidur dengan senyum di bibirnya.

 

Lita menutup pintu mobil Honda Jazz nya dengan ceria. Begitu melihat sosok Nuri, Lita langsung berlari kecil. “Hai Nur.”

Nuri menoleh kaget. Wajahnya tersenyum di paksakan. “Gimana Nur, surat gue udah dikasih ke Erik kan..”

“Udahlah, katanya makasih.”

“Kok, makasih doang sih…”  Lita bersungut manja. Nuri menoleh melihat wajah Lita yang cantik dan menggemaskan. Mana ada pria yang menolak dia untuk dijadikan pacar. Pria bodoh yang menolak Lita. Nuri jadi mendadak minder membandingkan dirinya dengan Lita untuk memperebutkan Erik. Nuri merasa jadi sangat malu.

“Gue nggak tahu. Lo sms aja dia. Dia nggak ngomong banyak sih.”

“Gue kan udah kasih elo tugas penting ini Nur. Elo harus terima kasih sama gue dikasih kesempatan untuk dekat-dekat Erik.  Jarang ada cewek dekat dengan Erik yang cakep itu. Apalagi cewek kayak elo begini…”

Dada Nuri terasa sakit. Tapi dia sudah terbiasa mendengar kalimat menyakitkan dari Lita. “Maaf Lit, ntar kalau ketemu Erik gue tanyain deh apa tanggapannya.”

“Nggak usah. Biar gue aja nanti yang langsung ngomong ke dia. Ada yang penting mau gue omongin tanpa elo tahu.” Lita meninggalkan Nuri dan menghampiri Beka dan Jesi, satu genknya yang cantik dan tajir.Nuri hanya menunduk. Tanpa Nuri tahu, ada sepasang mata memperhatikannya dari kejauhan.

 

Nuri sedang siap-siap membereskan tasnya. Lima menit yang lalu bel sekolahnya berdering. Beberapa temannya sudah angkat kaki dari kelas. Tiba-tiba Nuri dikagetkan dengan kedatangan Lita sambil menangis sesungukkan.

“Nuri…..kenapa jadi begini…” Lita mengusap air matanya dengan tisu. Sudah ada beberapa tisu basah di tangan satunya lagi.

“Kenapa Lit…”

“Ini pasti gara-gara elo yang salah ngomong. Lo ngomong apa aja ke Erik. Elo pasti kasih tahu Erik kalau gue pacaran sama Tio. Ayo, ngaku.. padahal gue pacaran sama Tio cuma main-main. Gue mau serius sama Erik, tapi dia….” tangis Lita pecah seketika. Nuri bingung.

“Gue nggak ngerti maksud lo apa Lit. Nggak mungkin gue ngomong ke Erik kalau elo jadian sama Tio. Elo tau gue kan, nggak mungkin gue kayak begitu,” wajah Nuri panik.

“Iya tapi kenapa Erik bilang nggak mau lagi ketemu gue. Nggak mau lagi surat-suratan sama gue. Katanya dia sudah menemukan cewek yang lain. Elo harus jujur sama gue Nur, siapa cewek itu. Erik ngomong apa aja kemarin, ngomong….” Lita menarik tangan Nuri dengan kasar. Nuri hanya terdiam.

“Gue nggak mau lagi temenan sama elo. Elo bikin sial! Habis ini elo jangan ikutin gue lagi. Awas!” Lita berjalan ke luar kelas sambil menghapus air matanya.

Nuri termangu. Nuri berjalan ke luar kelas sendiri. Di halaman parkir, Nuri melihat Erik yang tersenyum kepadanya. Erik menghampirinya. “Gue anter Nur.”

Nuri terbelalak. “Lo apain Lita sampai nangis begitu..”

“Ah, biasa dia emang begitu. Semenit lagi juga ketawa-ketawa lagi. Gue tahu dia udah pacaran sama Tio. Kayaknya dia cuma mau mainin gue doang. Mending gue cari yang masih jomblo. Gue anter yuk.” Erik menarik tangan Nuri dengan lembut. Nuri hanya terpana tanpa bisa berkata apa-apa. Diikuti saja langkah Erik ke arah mobilnya. ****

Agustus 2010 ( Teen Magazine)

Pekan Raya Indonesia 2016, Diklaim Sebagai Pesta Rakyat

Pekan Raya Indonesia (PRI) 2016 resmi dibuka, Kamis 20 Oktober 2016 oleh Kepala Barekraf Triawan Munaf  di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Serpong, Tangerang Selatan.
Si penggagas acara mengklaim ini adalah pesta rakyat terbesar. Mungkin besar, karena memang tempatnya di ICE yang memang luas. Menggunakan 10 hall yang ada di ICE BSD City seluas 66 hektar menunjukkan bahwa pagelaran PRI siap memberikan hiburan dengan konsep 1.000 band, 1.000 rasa kuliner warisan nusantara, dan beragam wahana permainan keluarga yang berlangsung dari Kamis, 20 Oktober 2016 hingga 6 November 2016 mendatang.

pri5
Tapi menurut gue, PRI sama aja kayak acara pameran pada umumnya. Malahan nggak jauh beda sama Pekan Raya Jakarta (PRJ) di Kemayoran yang digelar tiap tahun. Hanya PRI digelar di indoor jadi lebih adem dan dandanan tetep kece, gak campur keringet.
Tak lama sekitar pukul 15.00 lewat dikit (padahal undangan si jam 14.30 WIB), Triawan Munaf datang dengan ajudannya yang berjibun. Menurut gue, Pak Triawan ini nggak seperti pejabat lainnya. Mungkin karena dasarnya dia seniman musik ya, jadi kayaknya kurang nyaman aja gitu dikasih fasilitas ajudan dan menjadi orang penting paling utama di sebuah acara dan diplototin orang satu ruangan yang sudah menunggunya (piss pak Triawan), ini menurut pandangan gue yaaaa.

pri6
Di acara ini, Pak Triawan sempat curhat. Dia merasa terbebani dikasih tugas sama presiden untuk membantu mendorong menaikkan perekonomian Indonesia lewat ekonomi kreatif. Pasalnya, pemasukan ekonomi kreatif pada beberapa tahun belakangan menurun, katanya.
Untuk bisa masuk ke arena PRI, pengunjung bisa membeli tiket seharga Rp 25.000 periode hari Senin-Jumat dan Rp 35.000 untuk Sabtu dan Minggu.
Adapun pembelian tiket bisa dilakukan di Indomaret, Alfamart, dan Kiostix. Sementara untuk jam operasionalnya, Senin-Jumat dibuka pukul 15.00-22.00 WIB, sedangkan khusus hari Sabtu dan Minggu dibuka pukul 10.00-23.00 WIB.
PRI 2016 menghadirkan bermacam tenant mulai dari produk-produk baik kuliner, fashion, craft, otomotif, furnitur, properti, komputer, elektronik baik dari merek-merek ternama maupun usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

pri4

pri3
Selain hiburan entertainment, PRI juga ada gerai otomotif, busana, furniture, gadget yang katanya ada harga khusus. Kalau ini ada di hall 3.

pri7.jpg
Untuk hall 9 dijadikan surga untuk anak-anak. (Nah, gue bakal bawa baby F ke sini nih, azzeekk, gretong dong. hush!). Di sini ada beragam pameran produk permainan anak, wahana dunia salju, conjuring house, horse riding, gokart, paint ball, feeding pet, istana balon dan masih banyak lagi. Untuk kuliner ada di hall 1 dan 10.
AAL