Bootcamp Value of Your Life, Bangkitkan Potensi Terbaik dari Setiap Orang

 

IMG20180314162156

Setiap orang pasti pernah mengalami satu momen yang membuat dirinya terjatuh sehingga tidak lagi memiliki semangat hidup. Banyak orang yang pernah mengalami kesulitan dalam hidup sehingga stres dan depresi. Biasanya, mereka telah melakukan segala cara dan mentok sehingga tak tahu arah.

Nggak heran jika banyak orang yang rela membayar motivator dengan mahal agar bisa terbantu dalam membangkitkan semangat dan motivasi yang ada dalam diri mereka.

Tapi berbeda dengan Onggy Hianata. Onggy emoh jika disebut seorang motivator meski telah berhasil ‘menyelamatkan’ ribuan orang dari masalah yang membelenggu mereka.

“Saya nggak mau disebut motivator, saya nggak merasa memotivasi orang. Saya hanya ingin sharing tentang sebuah value kehidupan. Saya sangat yakin cerita motivasi sudah ribuan jumlahnya, ” kata pria kelahiran Tarakan, Kalimantan Timur.

Onggy mengaku hanya berbagi pengalaman hidup ke orang lain, sehingga orang lain merasa termotivasi dan mengubah hidupnya menjadi lebih baik.

Value of Your Life

IMG20180314150716
Belum lama ini, Onggy Hianata mengundang puluhan blogger di acara yang bertema Value of your life. Dalam acara tersebut, Onggy bercerita tentang pembinaan mental yang disebut Value of Your Life, A life Changing Bootcamp.

Dalam program pembinaan mental yang dijalani sejak 2003 itu, Onggy menggali dan membangkitkan potensi terbaik dari setiap orang yang hadir.

Hingga kini, program tersebut telah dihadiri lebih dari 75 negara di dunia dan ribuan orang yang berubah menjadi lebih baik. Menurutnya sudah ada ribuan orang yang berhenti dari ketergantungan rokok, alkohol dan kebiasaan buruk lainnya.

Masa Lalu yang suram


Onggy lahir dari keluarga miskin. Dia dibesarkan dengan kondisi serba kekurangan dan ketidakpastian dari masa kecil hingga dewasa. Justru dengan kondisi tersebut, Onggy tidak menjadi minder dan putus asa. Onggy malah berjuang agar hidupnya berubah.

Tapi hidup layak belum berpihak padanya. Onggy melakukan banyak usaha agar bertahan hidup. Dia berkali-kali mencoba bangkit tapi kegagalan seperti menjadi nama tengahnya. Onggy pun banyak mengikuti kelas motivasi agar dia terus berjuang mengejar impiannya dan terus bangkit.

Akhirnya, kesuksesan mulai di depan mata. Pria kelahiran 1962 itu merasa kegagalan yang pernah terjadi padanya itu bisa ‘menyelamatkan orang lain lewat sharing yang dilakukannya terus menerus. Bisa dibilang kini kondisi kehidupannya berbanding terbalik dengan kehidupan masa kecilnya.

Onggy sadar kesuksesan hidup terletak pada pola pikir yang kemudian membangkitkan motivas dan membangun karakter pribadi.

Film Terbang Menembus Langit

film onggy
Kisah sukses Onggy Hianata memang layak diangkat ke film untuk dijadikan motivasi bagi orang lain. Film yang disutradarai Fajar Bustami itu bercerita ketika masa lalunya di Tarakan yang berjuang hidup dari bawah. Sosok Onggy Hianata diperankan oleh Dion Wiyoko, dan istrinya diperankan oleh peraih piala Citra, Laura Basuki, dan beberapa aktris terbaik lainnya seperti Aline Adita, Baim Wong, Delon dan Melisa Karim.

Dalam trailer, terlihat film tersebut banyak menguras air mata dari para jejeran aktor dan aktris yang aktingnya sudah tidak diragukan lagi. Kabarnya film tersebut akan tayang di bioskop pada April 2018.

Testimoni dari Peserta Bootcamp Value your life

Ir. Sudarmono Djoko Nugroho,dan istrinya Dra. Ary Hellya Kurniati, Apt,
Pasangan suami istri ini nyaris bercerai beberapa tahun lalu. Sang istri, Ary bercerita dengan detil bahkan nyaris menangis ketika dia masih bekerja dan memiliki posisi baik di kantor.
Saat itu Ari yang memiliki dua anak lelaki mengaku merasa sombong dan merasa tak perlu seorang suami. Dia merasa mampu membiayai hidup sendiri tanpa suaminya. Kehidupan pasangan tersebut buruk.

“Kita akan bercerai, padahal tidak ada masalah apapun,” katanya.

Ary juga terlalu keras kepada anaknya dan menuntut mereka untuk berprestasi di sekolah. Ary menjadi jauh dengan kedua anak dan suaminya. Dia sadar ketika menyadari anaknya kecanduan game karena ingin menghindari tak berinteraksi dengan ibunya.

Setelah mengikuti bootcamp, Ary jadi berubah. Diapun membawa serta suami dan kedua anaknya mengikuti bootcamp, sehingga perubahan besar terjadi kepada keluarganya.

Bootcamp selanjutnya akan diadakan pada bulan Mei 2018 dengan biaya Rp5,5 juta.

Semoga Bermanfaat

ALIA F

 

 

Advertisements

Ketika Tukang Sayur Jadi Penyelamat Perut Bangsa

tkg s

Alhamdulillah, Last day one day one post…

Tanpa disadari, kita sangat terbantu dengan tukang-tukang yang sering lalu lalang di depan rumah. Mulai dari tukang sol sepatu, tukang jamu, tukang tambal panci, tukang sayur keliling.

Eh tapi di komplek rumah saya dilarang ada tukang sayur keliling, lantaran beberapa rumah di dalam komplek jualan sayur. Jadi supaya tidak menghambat rezeki mereka, dilaranglah tukang sayur keliling masuk komplek. Padahal penting banget, kalau lagi mager atau hujan, mereka menjadi penyelamat perut-perut di rumah.

Berbiacara soal tukang sayur, insting emak-emak saya langsung muncul. Nggak tahu kenapa, perasaan barang dagangan di tukang sayur itu penting banget dan berasa pengen dipindahin ke dalam kulkas di rumah.

Nyaris semua emak yang saya temui kalau belanja di tukang sayur, ngeluh gini. “Bawa uang 50 ribu masa dapet segini doang,” kata seorang ibu sambil tertawa ngenes.

Bener juga sih, keluhan semua emak itu adalah serba mahal, udah kayak obrolan setiap hari yang didengar.

Saya punya cerita sedikit, ada tukang sayur di rumah yang jadi langganan. Apalagi ketika saya hamil dan harus bedrest di rumah sepanjang kehamilan. Jadi hampir setiap hari saya SMS minta dianterin beberapa barang untuk masakan di rumah, dan saya tinggal bayar. Keren, ada delivery segala.

Apalagi waktu bedrest itu pas banget pembantu mudik nggak balik lagi. Yah, namanya juga emak, kalau disuruh bedrest sama dokter, tetep aja megang kerjaan, salah satunya masak (meski rasanya standar abbesss). Kasian dong liat anak dan pak suamik nggak makan.

Beberapa kali suka kebingungan ketika tukang sayur di rumah kompak nggak dagang. Ada yang pergi, ada yang waktunya tutup, ada yang sakit, dari sana berasa banget, tukang sayur itu sebagai ‘penyelamat perut bangsa’. Kalau nggak ada tukang sayur, mau makan apa? Beli di warteg? Belum tentu rasa dan makanannya sesuai. Pake Ojol? Mahhall kalee. Hidup tukang sayur!

AAL

 

 

Film adalah Cara Mudah untuk Masuk ke Anak Jaman Now

film perjua

 

Penting nggak film-film perjuangan bisa mempengaruhi anak-anak jaman now?

Penting. Yang paling gampang mempengaruhi seseorang itu lewat tayangan visual, baik video atau foto. Lihat jaman sekarang, moral anak-anak jaman now mulai memprihatinkan karena pengaruh dari tayangan video di Youtube. Jadi untuk mengubah pengaruh buruk itu, yaaa lewat tayangan video juga, dalam hal ini film.

Coba aja lihat, film-film Amerika yang mendunia, kabarnya itu salah satu cara propaganda Amerika untuk mempengaruhi pikiran orang, lewat film.  Nggak usahlah saya sebut satu-satu film apa aja sehingga kita terpengaruh.

Nah,

Agar anak-anak jaman now di Indonesia kenal pahlawannya, mereka jadi memiliki idola yang bener, publik figure, role model, pastinya lewat film. Bagaimana soal film perjuangan?

Belum lama ini heboh soal film G30S PKI, ada yang pro dan kontra. Apalagi kabarnya, PKI di Indonesia mulai bangkit lagi.

Untuk saya pribadi, penting film G30 S PKI ditayangin kembali di Indonesia agar anak-anak jaman now paham, sadis dan jahatnya PKI itu yang sebenarnya. Bagaimana mereka ‘menghabiskan’ para jenderal di Indonesia, dan bagaimana agama ‘dihilangkan’ sehingga sudah nggak ada lagi moral yang tersisa.

“Manusia itu disebut manusia adalah ketika masih menjaga moralnya. Kalau udah nggak ada moral, apa bedanya dengan binatang?”

Anak jaman now, udah berkurang rasa nasionalisme dan rasa memiliki akan Indonesia. Mereka selalu mencari kiblat ke Amerika. Padahal baik secara sosial, budaya, kebiasaan, tradisi dan lainnya, beda banget Indonesia dan Amerika.

Indonesia negera berkembang, Amerika negara maju, berkuasa di dunia. Yaaa dari sini sudah bisa ditebak, jauhh bangeett kalau mau disamakan dengan Amerika. Mental orang Indonesia belum kuat untuk menyamakan dengan Amerika, yang ada malah keblinger. Lihat aja udah banyak buktinya.

Waktu kecil saya suka banget sama film Pasukan Berani Mati, yang main itu Barry Prima, Eva Arnaz dan Rini S Bono Beatrice. Selain memperlihatkan perjuangan anak muda melawan penjajah, film ini juga mempertontonkan bagaimana persatuan itu bisa mengalahkan Belanda yang menguasai Indonesia. Bagaimana Indonesia bisa diselamatkan dengan cara para anak mudanya bersatu. Bukan kayak sekarang,  sesama orang Indonesia saling menyerang di sosmed.

Sooooo…..

Untuk para sineas film di Indonesia, banyak-banyak deh bikin film perjuangan, film yang cerdas dan mendidik yang tentunya masih ada balutan entertaimmen. Supaya masuk ke dalam pikiran anak muda now,  untuk bisa selamatkan Indonesia. Jangan melulu film tema nggak jelas apalagi tema hantu-hantu. Susah emang kalau jatohnya bisnis. For them, film is bussines, not to give education.

Semoga Bermanfaat

AAL

 

Mana Sisi Feminin dan Maskulin mu?

Man and woman facing each other

Setiap manusia memiiki sisi feminin dan maskulin, tapi kadarnya tiap orang tentu berbeda. Kadang saya bertemu teman lelaki yang menurut saya kadar femininnya lebih banyak dibandingkan lelaki umumnya, meski penampilannya macho, tinggi besar, berbulu mulai dari wajah dan tangannya, tapi dia normal. Lantaran dia lebih baperan dibandingin perempuan asli, emosionalnya juga lebih memuncak di waktu tertentu. Lagi PMS bro?

Selain hormon (begitu kata dokter di sebuah talkshow), sisi feminin atau maskulin seseorang juga dipengaruhi dari lingkungan dan pola asuh orang tuanya. Kalau saya sepertinya lebih banyak sisi maskulin. Nyaris semua orang yang mengenal saya sejak jaman sekolah bilang kalau saya tomboy.

Sepertinya ini penyebab dari lingkungan deh. Soalnya, saya tiga bersaudara dan saya di tengah perempuan sendiri. Taukan kalau anak laki kayak gimana gayanya, agak kasar, kalau ngomong asal nyeplos, to the point, nggak ada baper, kalau bercanda digaplok, gaplok beneran, wah pokoknya urusan sama abang dan adek di rumah kacau deh. kalo pukul jadi pukul beneran.

Apalagi ibu saya nyaris nggak pernah ajarkan saya urusan soal perempuan. Jadi you knowlah, hasilnya kayak gimana emak ini. Kecil dikeliling lelaki, berteman dan nongkrong juga dengan teman lelaki, pas udah nikah punya anak 3 lelaki, khatam deh urusan soal lelaki, Lol.

Dulu sempet saya mikirnya gini, main sama perempuan ribet, banyak omong, berisik, banyak ngatur, baperan dan banyakan nggak enak, demen basa-basi. Kalau anak laki kan enak, (ini dulu ya jaman sekolah), gak usah basa-basi, kalau gak suka langsung aja ngomong gak pake nggak enak, nggak pake baper. Kalau sama perempuan mana mungkin?? Iyegak.

Jadi karakter saya kayak gitu, kadang ada yang nggak cocok sama beberapa temen perempuan. Kalau udah gitu saya mending melipir deh, berteman dengan yang lain, yang mereka juga nyaman sama saya. Sepertinya mereka nggak terima dengan gaya saya yang to the point. Atau kalau perempuan itukan nge-gank, lalu bisik-bisik ngomongin orang, selalu merasa tersaingi dengan perempuan lain, nah saya nggak cocok kalao kayak gitu. Sowry, saya nggak bisa saingan sama orang.

Tapi anehnya saya punya sahabat perempuan semua, nggak ada lelaki. Dan kalau jalan sama temen-temen perempuan ini, saya yang melindungi mereka lho. “Gue kalau jalan sama aal, kayak jalan sama anak laki,” nyaris semua temen komentar begitu.

Soalnya gaya saya kayak jagoan, kalau ada anak laki yang rese, gangguin kita, saya yang maju, hajar bleh! ahahahha.

Lantaran sejak kecil tidak dikenalin dunia perempuan, saya merasa jadi nggak becus melakukan ‘pekerjaan perempuan’. Seperti menjahit gak bisa, masak menjurus nggak enak, beberes rumah nggak betah lama-lama, nyetrika apalagi.
Tapi saya bersyukur, masa kecil kayak gitu jadi membuat saya sebagai emak setrong! Memang sih sejak kecil saya terbilang mandiri, kalau mau sesuatu harus dapet, nggak ada tuh merengek minta ortu. Apalagi saya bekerja, lantaran punya penghasilan sendiri, semua saya beli dengan uang sendiri tanpa merengek minta suami. Intinya, nggak mau ngerepotin orang. Gue bisa kok, begitu terus dalam pikiran saya.

Lalu apa sisi femininnya dong?

Yaaaa jadi seorang emak lah. Namanya seorang emak di mana-mana sama, nggak tegaan sama anak. Sejak punya anak saya nggak bisa lagi egois, saya harus kompromi dan mengalah juga sabar. Saya yang ‘banci jalan’ harus mengubur dalem-dalem passion saya untuk traveling keliling dunia.

Bahkan ada seorang temen ngomong begini,

“Sisi maskulin elo tuh banyak, Cara berfikir lo kayak laki, tapi kenapa ya langkah-langkah yang elo lakukan feminin?” Maksudnya langkah adalah keputusan-keputusan yang gue lakukan untuk masa depan.

Yaiyalaaa, pegimanapun juga I’m a mom. and wife. Harus banyak pertimbangan yang dilakukan, pertama ijin suami yang kedua lihat kondisi anak.

Selain itu saya orangnya nggak tegaan dan cengeng. Nggak adakan laki cengeng? Saya nggak bisa ada di sebuah ruangan ada 1 orang yang nangis, yang ada ntar jadi nangis berjamaah. Nonton film sedih nangis, lihat orang bahagia menitikkan air mata nangis, lihat anak kecil susah nangis, lihat orang nangis, ikutan nangis. Gue benci bagian diri gue yang ini, cengeng!!

Tapi berfikir positif lagi, Alhamdulillah gue masih punya hati, masih bisa merasakan apa yang orang lain rasakan yegak genks.

Semoga Bermanfaat

AAL

Soal Wilayah Perbatasan, Percaya Gak Kalau 1 Rumah ada 2 Negara

batasan

Hhmmm.. agak berat nih ODOPFeb18 day10 kali ini. Berbicara soal perbatasan Indonesia dengan negara lain.

Saya pernah membaca artikel mengenai hal ini di Majalah Tempo, udah lama. Saat itu Tempo mengupas bagaimana nasib orang Indonesia di wilayah yang berbatasan dengan Malaysia.

Iii yang menarik dan sampai sekarang kadang bikin saya teringat.

Sudah bukan hal asing lagi, harga barang di wilayah yang berbatasan dengan Indonesia itu sangat mahal. Belum lagi mereka harus menempuh jalanan yang sangat jauh, jadi memakan waktu lama dan duit yang banyak untuk transportasi. Akhirnya mereka membeli barang di Malaysia. Mereka hanya berjalan beberapa meter, lalu bisa membeli semua keperluan rumah dengan mudahnya. Harga lebih murah, waktu dan jarak yang ditempuh lebih cepat.

Bahkaannn…ini yang bikin saya nggak habis pikir, kok bisa sih? Ada sebuah rumah, ketika posisi dia di ruang tamu, dia masih di wilayah Indonesia. Tapi ketika dia sudah di dapur, dia masuk ke wilayah Malaysia. Bingunkan lo? Hahahahah

Saking bingung, akhirnya gue berfikir begini, apa sih di Indonesia yang nggak aneh?

Jujur nih, jika berbicara soal Indonesia saya skeptis, kritis, sinis, dan is is lainnya lah.
Mau bantu juga susah, karena kita nggak punya power untuk mengubah itu, tapi para steak holder nya yang punya kemampuan mengubah hal-hal bingung ini. Yekan? Coba, bisa apa kita? Nothing. (kalau ada yang bisa tulis di komen yaks)

Jadi wajar dan gak bisa disalahkan jika terdengar isu-isu kalau masyarakat di perbatasan Indonesia itu orangorangnya sudah nggak nasionalis. Yaiyalaahhh….gimana mereka mikir nasionalis, pemerintah aja nggak mikir ‘perut’ mereka, malah pemerintah lain yang memikirkan itu. Bahkan kabarnya, pemerintah tetangga itu membolehkan banget WNI untuk nyebrang melakukan hal itu. Justru katanya pemerintah tetangga lebih perhatian.

No wonder, pemerintah kita lagi pada sibuk ngejagain kursinya supaya nggak pindah ke orang lain. Jadi mereka ‘nggak kemana-mana’ , nggak tau kalau ada rakyat miskin dan butuh bantuan di wilayah bagian minim yang kemungkinan bisa membelot ke sebelah.

Pemerintah sadar warganya hilang, pas lagi pemilihan pilkada atau pemilu. Mereka bingung jumlah berbeda yang didata dan kenyataan. Apa kabarnya bapak ibu pejabat terhormat?? Kemana aja selama ini?

Saya palingan pingin ke sana, mau lihat aja kondisi gimana, kok bisa di satu rumah ada 2 negara? yang ada bakal saya tulis di blog dan saya bikin vlog,

hahahaha….indonesiaku..indonesiaku..

AAL

Ini Produk yang Akan Saya Tolak untuk Campaign

blogggggg

Tema apa yang akan ditolak untuk campaign di blog dan akun sosmed lainnya?

Well selama ini sih Alhamdulillah (walau gak banyak), brand yang masuk semuanya nggak ada produk yang aneh-aneh. Semuanya sudah sesuai jalurnya, gak ada yang lebih dan nggak ada yang kurang.

Kadang, memang, biasanya saya menerima produk campaign jika srek di hati dan saya beneran memakainya. Jadi menulisnya pun enak, lancar dan dari hati. Kalau dipaksakan kayaknya kelihatan ya dari tulisannya nggak ada soul, tssaahhh.

Tentu setiap blogger punya standar tertentu bagi dirinya sendiri apakah ada produk atau brand apa yang bakal diterima atau ditolaknya. Kalau saya sepertinya umum juga seperti blogger lainnya, ini produk yang bakal saya tolak.

1. Rokok. Yaiyaaalaahhh…nekat amat kalau sebuah brand rokok menawarkan saya untuk campaign atau content placement di blog. Ini nggak mungkin juga sih.

2. Minuman beralkohol. Ini lagi, sangat tidak mungkin hahahaha

3. Produk kecantikan. Biasanya tawaran brand kecantikan ini dari sebuah komunitas, pernah saya iseng isi form untuk produk lipstik lokal. Eh ternyata saya salah satu terpilih, setelah lipstik diterima ada 8 biji, saya yang bingung gimana bikin video serta fotonya. Apalagi saya nggak pede harus selfie. Udah bolak balik coba dan edit, pas nonton hasilnya, saya tutup mata, nggak tega nonton diri sendiri hahahha. Apalagi saya naif banget deh sama hal-hal yang berbau kecantikan dan perawatan tubuh.

4. Apalagi yaaa….saya belum banyak euy campaign produk jadi segini dulu kayaknya.

Bagaimana caranya menolak?

“Terima kasih sudah menawarkan saya untuk campaign ini, saya senang sekali brand ini mengingat saya. Tapi maaf, saya sedang ada kerjasama dengan produk serupa jadi nggak bisa menerima yang ini.Mungkin lain kali kita bisa kerjasama.”

Mungkin gitu kali yaaa menolaknya. Entahlah..belum ngalamin soalnya.

Yang paling penting, profesional aja sih, jadilah diri sendiri, jangan karena kebelet bokek jadi terpaksa menerima tawaran tersebut. Saya doakan blogger yang membaca postingan saya ini jadi lebih banyak mendapatkan tawaran campaign dan content placement, Amin Yra.

Semoga bermanfaat’

AAL

 

 

Resolusi Itu Penting Nggak Sih

DSC_2425.jpg

Assalamualaikum…
Gak terasa ODOP Februari 2018 ini udah masuk aja ke hari ke enam.

Temanya kali ini mengenai Resolusi 2018, dan effort apa yang sudah dilakukan?

Hhhmmm….beberapa tahun kemarin saya selalu membuat resolusi, atau rencana di tahun baru yang berhubungan dengan pekerjaan. Tapi ketika sepanjang tahun 2017 semua kliennya PHP (pemberi harapan palsu) saya jadi mengkeret membuat resolusi.

“Dont show off your dream, the universe will take it back.”

Begitu sebuah quote yang saya baca.

Mungkin, sepanjang 2017 kemarin saya pamer, riya dan berasa sombong ketika banyak sekali miting dengan beberapa perusahaan besar. Saya posting di medsos semua itu, dengan harapan diaminin oleh para temen di medsos sehingga memperlancar dong. Lantaran saya berencana akan membuat kantor PR dengan dua orang teman, untuk bisnis yang berbeda.

Kala itu, proposal yang kita ajukan direspon positif oleh beberapa perusahaan besar. Kita udah bolak balik meeting dengan wajah sumringah.

“Tolong mbak proposalnya dijabarin lebih detil untk presentasi ke CEO,” kata si mbak cantik yang jabatannya Head of Markeing di sebuah perusahaan retail besar itu.

Saya GR dong…

Lalu ada lagi meeting untuk sebuah event nasional, waahh pokoknya banyak meetinglah sepanang tahun kemarin. Kalau meeting kan harus pake ongkos, harus ninggalin anak di rumah dan membayar bibi lagi (karena pake bibi pulper), waktu kebuang juga, apalagi sekarang status freelancer yang udah nggak ada penghasilan tetap setiap bulannya.

Belum bolak balik revisi proposal. Pokoknya mencengangkan banget tahun lalu itu, cepat sekali berjalannya.

Nah, karena hasilnya zero kzl. Jadi resolusi saya tahun ini , jalanin aja apa yang ada. Yang penting udah usaha udah ikhtiar, kalaupun ada yang ajak miting, saya sortir dulu apakah kira-kira menguntungkan. Apakah cuma ngobrol nggak jelas, soalnya capek hati juga boooo kalau di PHP in orang. Mbo ya kasih kabar gitu setelah beberapa kali ada ‘pertemuan mesra’ itu. Ini seperti lewat diterpa angin (tsaah).

Soo…saya sekarang ini semuanya mau dibikin santai ajah, nggak ngoyo lagi.

To be or not tobe, kalau kata Shakespere di cerita Hamlet.

AAL