Hurting-People Hurts People

Catatan ini berasal dari twitkusi (Allisa Wahid) di tanggal 11 Maret 2011. Asalnya dari teman SMA saya yang bicara tentang orang sulit yang sedang dihadapinya. Sebagai orang yang berada di sekitar orang seperti ini, kita pasti merasakan beratnya.

Atau jangan-jangan, kita sendiri yang ternyata a difficult person?

——-

Twit @abekanatalia: Hurting people hurts people.. I read this from @AlissaWahid & sepertinya benar adanya, direct or indirectly :( (

Hmm..Sedih ya? Orang yang egonya sedang sakit, memang seringkali menyakiti orang lain.. So please be compassionate.

Ego manusia membutuhkan makanan, berupa pengakuan, penghargaan, penghormatan. Ego yang lapar akan berkembang menjadi kalap dan jahat; seperti perut, ia akan mencari makanan dengan rakus. Dia mencari pengakuan diri, dengan cara show-off, cari perhatian, dan lain-lain. Ego yang lapar membuat orang menekan orang lain, untuk mendapatkan penghormatan, walau semu.

I am something,” kata Ego yang lapar. Maka ia pun berusaha menunjukkan itu dengan cara menyakiti orang lain, penanda kekuasaannya atas dunia. Sayangnya hurting-people tidak sadar bahwa she/he hurts people .. All she knows is that it’s the way to be something..

Suatu hari saya berdiskusi dengan 2 anak SD saya tentang #bully. Mereka punya teman yang sering mengganggu anak-anak lain. Kata mereka, teman-teman di kelas suka mengatai si bully. Saya akhirnya memberitahu mereka bahwa hurting-people hurts people. Mungkin si #bully ini kurang diperhatikan orangtuanya, sehingga ia mengganggu anak-anak lain. Mungkin bersikap demikian adalah satu-satunya cara untuk dia mendapatkan perhatian. Maka kasihani mereka, karena mereka bukanlah anak yang bahagia.

RT @AlandaKariza: I was bullied.
On the other end, walaupun bullied, if you have healthy ego, you still comes out with flying colors in this world!

RT @MayHera: mbak tanya, bisa tidak manusia mengakui, menghargai dan menghormati diri sendiri, hingga tak lapar dan serang oranglain. bisa kan? maksud saya, “makanan” itu tak usah dicari dari orang lain. Saya amati cenderungnya hurting people hurts people itu nyari makananan dari orang lain.

– Makanan Ego bisa dari dalam diri sendiri, tapi biasanya tetap ada balance dari luar. Penghargaan dari orang lain tetap makanan penting, mbak  @MayHera.

Ego yang sehat diawali dari proses perkembangan basic trust di tahun-tahun pertama hidup kita. Kalau proses ini berjalan baik, next phases of life bisa lebih mudah. Bila tidak, seseorang tetap akan tumbuh tetapi ada satu bagian penting yang hilang. Kemudian tergantung dari masa-masa perkembangan psikologis berikutnya. Bila basic trust ini kemudian didapatkan di masa-masa perkembangan berikutnya, maka ego pun mengalami ‘penyembuhan’. Proses pematangan basic trust di usia 0-2 tahun ini sangat tergantung dari orang-orang dewasa di sekitarnya.

Kalau ketemu hurting-people harus gimana? Kalau dia nggak penting untuk kita, tinggalkan saja. Kalau dia orang penting dalam kehidupan kita, bantulah memberi makan egonya. Bantu memberi makan Ego yang lapar dengan kasihsayang & penerimaan tak bersyarat: consistently be there for her, puji kelebihannya.

RT @inggita: Tapi kata Dilbert don’t feed the ego.
— Well, maybe what he meant was feed the Self-centered Ego

RT @Romailprincipe: kepuasan muncul setelah menyakiti orang, kadang diikuti penyesalan dan pernyataan “maaf”

RT @bentarabumi: saya sepertinya masuk kelompok itu. saya selalu menyakiti orang yang sayang saya & akhirnya kehilangan. rasanya ga menyenangkan. Awalnya dari ortu yang punya relasi gak sehat, #brokenhome – KDRT juga, akhirnya saya jadi korban & kemudian pelaku kekerasan :’(   Rantai kekerasannya susah diputus, baru beberapa bulan terakhir saya bisa melewatkannya. susah. sakit ngelepasinnya, kayak kecanduan
– You are indeed a Survivor, mbak @bentarabumi .. Wishing you strong & well on your journey!

tweet to @MayHera: kalo dia bukan org penting dalam hidup mbak, dicuekin & jangan mau terpengaruh kelakuan dia. Rugi. Fokus pada diri sendiri aja mbak.. Orang seperti itu hanya bisa distop dengan kita keluar dari lingkaran pengaruhnya. Kalau dia melihat mbak tidak terpengaruh, dia tahu cara dia nggak mempan lagi..

tweet @abekanatalia: iya li, sbnrnya gue terkena yg indirectly. Dia not intend to do. U right, compassionate dan understanding. But itt hurts badly.
— oalah. Kasian. tricknya adalah memberi makan ego secara konstan. Makin lama dia akan makin baik. Kalau ‘lagi kumat’ dia dicuekin aja. That way dia tahu, kalau kita tidak mempan dikasih ‘kumat’nya. Juga tahu kalau dia baik malah kita baik.

Memang, tidak mudah menghadapi orang sulit. Tetapi sekali lagi, baiklah kita berkaca. Apakah kita bukan orang sulit di mata orang-orang di sekitar kita?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s