CATATAN KECIL KETIKA MENGINJAKAN KAKI DI BUMI PARA NABI 3

Image

 

Pas azan zuhur kita sampai di hotel dan siap-siap ke Nabawi. Menghabiskan waktu di tanah suci dengan beribadah poll seakan memberikan energi baru. Mindset tentang kehidupan sedikit berubah. Apa yang kita pikirkan katanya bisa terwujud. Entah benar Entah tidak, tapi gw merasakannya. Saat itu kita sedang solat  di Nabawi. Gw dengan seorang teman membahas, sepanjang sholat di Nabawi nggak pernah melihat satu orang cina pun. Yang dilihat berwajah Arab, Eropa, Turki, India, Melayu, Afrika. Ketika azan sudah berkumandang dan mesjid semakin penuh, gw heran kenapa di sebelah gw nggak ada satupun yang mengisi?Dalam hitungan menit ketika duduk  menanti komat, mata gw bertumpu pada satu sepatu kain berwarna pink. Sepatu pink itu berdiri di samping gw dan akan mengisi tempat kosong itu. Ketika mendongak dan melihat wajahnya, Oh My God. She’s a Chinese!!Matanya sipit, pipinya tembem dan kemerahan. Teman gw bilang kayak orang Mongolia. Gw perhatiin terus orang Cina itu apakah dia wujud malaikat? Hahahahah, nggak mungkin juga soalnya dia datang sama nyokapnya.

 

Keajaiban lain datang ketika selintas lewat di pikiran gw seandainya punya tasbih mungkin zikir gw lebih khidmat. Entah bagaimana ketika I’tikaf di Mesjid, tiba-tiba di bawah tas terjulur sebuah tasbih berwarna biru. Kata teman gw, itu tasbih milik orang di sebelah gw. Gw yakin orang Arab disebelah gue baru datang ketika gue kembalikan dia menolak. Alhasil itu tasbih milik gw alhamdulillah, rejeki.

 

Pertolongan Allah datang lagi ketika di malam hari ternyata Raudhah di buka untuk perempuan. Usai sholat Isya gw baru tahu Raudhah tidak hanya dibuka di pagi hari juga malam hari dan malam itu lagi-lagi gue sendiri terpisah dari 3 teman sekamar. Ketika masuk ke Raudhah, gw diserbu oleh segerombolan ibu2 gemuk dan berjalan seperti robot, yakni ibu2 dari Turki. Gw kejepit, nggak ada satu pun teman yang bisa menarik gw keluar dari tempat berbahaya itu. Sholat pun sulit, jalan nggak bisa. Tubuh gw seakan remuk terjepit. Dan gw lihat orang2 melayu lain membuat pagar untuk temannya agar bisa solat bergantian. Lha gw? Siapa yang menjaga dan keluar dari gerombolan ibu2 penuh napsu  itu? Alhamdulillah segala pertanyaan di dalam hati dijawab dan dalam hitungan detik di hadapan gw ada ruang kosong dan gw bisa solat dan sujud sepuasnya. 

 

Gw semakin yakin dan bersemangat diberi kemudahan oleh Allah di Tanah Suci itu. Gw semakin se mangat menyambut hari ke Mekkah dan siap menerima kemudahan lain meskipun kenyataanya kemudahan dan ujian yang gw terima di Mekkah membuat gue harus ikhlas dan sabar. Kecintaan Allah untuk gw di Mekkah dalam bentuk yang berbeda dari yang gw terima di Madinah.

 

Mekkah

 

Senin, 14 Maret 2011

 

Siap-siap check out dari Madinah menuju Mekkah. Perasaan sangat berat meninggalkan Madinah dan Nabawi. Separuh jiwa gue tertinggal di sana. Gw tinggalkan jalanan yang diapit gedung-gedung tinggi menjulang. Gw lepaskan hembusan angin dingin Madinah yang menerpa tubuh, wajah dan hati gue. Gw gak perduli kulit wajah, bibir dan badan gw mendadak kering dan gatal-gatal minta ampun. Semua justru terasa nikmat dan indah yang pasti nggak akan gw temuin di Jakarta. Yakin suatu saat Allah dan Rasulullah akan memanggil lagi untuk bisa menengok kota Suci yang diberkahi itu.

 

Perjalanan ke Mekkah menghabiskan waktu sekitar 5 jam. Sebelumnya kita mampir dulu ke Bir Ali, tempat kita miqot yakni menjatuhkan niat untuk umrah. Kalau sudah berniat banyak yang harus kita jaga agar tidak perlu membayar dam atau denda. Larangannya, rambut jangan sampai lepas, kuku copot,jangan berhubungan intim, jangan mencabut tanaman, jangan membunuh binatang, jangan berkata kasar, jangan bertengkar, dan bagi pria memakai baju ihram. Juga dilarang memakai wangi-wangian.

 

Akhirnya dari Bir Ali kita sudah melakukan perjalanan ke Mekkah dalam keadaan niat umrah. Sekitar jam 11 kita sampai di Mekkah dan langsung menaruh barang di hotel Grand Zamzam. Kita memulai umrah sekitar pukul 2.00 pagi.

 

Keluar dari hotel hati gue bergetar melihat Masjidil Haram dari luar. Menara, bentuk kubah yang selama ini Cuma gw lihat di gambar, dan sajadah ada di depan gw. Di manakah kau wahai Ka’bah?

 

Lalu kita masuk di gate 1, Kingabdul Azis tertulis di pintu 1 itu. Ketika masuk Masjidil Haram gw terbelalak, badan gw bergetar, hati gw berdetak, nun jauh di hadapan gw berdiri tegak sebuah benda hitam segi empat dengan megah dan agung. Magnetnya sangat kuat. Itukah Ka;’bah? Hah itu ka’bah? Subhanallah Ka’bah di hadapan gw?

Sumpah. Gak bisa gw jelasin perasaan gw saat itu. Ka’bah yang selama ini cuma lihat di tv, cuma ada di gambar dan sajadah. Ka’bah yang se lama ini menjadi kiblat seluruh umat Islam di seluruh dunia. Ka’bah yang menjadi satu tumpu dan kesatuan umat islam ada di hadapan gw???

 

Ternyata saat itu bukan gw aja yang bergetar. Semua teman gw satu kelompok merasakan hal yang sama. Ingin rasanya saat itu gw peluk Ka’bah. Ingin rasanya gw rangkul. Berulang-ulang gw bersykur bisa dipanggil Allah dan menjadi tamu Nya di kota suci Mekkah. Berulang-ulang gw berterimakasih karena Allah mengundang gw datang ke sana. Gw semakin yakin, siapapun yang datang ke Mekkah dan Madinah itu atas undangan Allah. Sebanyak apapun orang berduit, kalau hatinya belum dipanggil pasti sulit untuk bisa datang dan melihat Ka’bah secara langsung.

 

Pukul 2.00 pagi kita thawaf keliling Ka’bah. Kalau mau diibaratkan mungkin gw seperti ketemu idola gw. Nggak bisa mata lepas dari Ka;bah sepanjang gw thawaf memutar Ka;’bah sebanyak 7 kali sambil mengucapkan Bismillahi Allahu Akbar dan mengecup tangan kanan ketika di Multazam (antara Hajaraswad dan Pintu Ka’bah). Gw telusuri seluruh Ka’bah dengan mata gw. Kain penutupnya yang hitam dengan bergaris dari emas, gw merasa Ka’bah hidup. Ka’bah berdiri tegak memperhatikan umat Islam yang mengelilinginya. Magnetnya sangat sangat kuat dan tajam.

 

Gw juga memperhatikan orang-orang yang berusaha memegang Hajar Aswad. Saling berebutan memegang batu hitam dari surga itu. Juga berusaha sholat di Hijr Ismail dan di makam Nabi Ibrahim. Hajar Aswad itu dalam sebuah riwayat adalah sebuah batu hitam dari surga. Konon, batu itu juga pernah dipegang Nabi Adam ketika manusia pertama itu masih berada di surga. Batu itu terbelah menjadi 9 dan direkatkan dengan lem hingga tegak seperti bentuk sekarang.

 

Hijr Ismail itu adalah batu setengah lingkaran dan di dalamnya orang sholat 2 rakaat sekaligus berdoa dan diijabah oleh Allah. Di atas Hijr Ismail terdapat pancuran dari emas, riwayat dari Hijr Ismail gw kurang tahu tlg diselipin yang mengetahuinya ya. Yang pasti ketika gw melaksanakan thawaf ke 3, pas banget gerimis di Mekkah. Air yang berjatuhan di sekitar Hijr Ismail dan pancuran emas itu oleh beberapa orang diambil dan ditadahin. Ada yang dimandikan, mungkin di minum. Menurut gw ini udah sirik karena gw lihat hanya air hujan yang kotor aja. Wallahualam.

 

Sedangkan makam Ibrahim itu bukan kuburan. Bagi orang Arab makam itu ada 2 arti yakni tempat dan kuburan. Untuk makam Ibrahim di Ka’bah ini hanyalah batu yang di dalamnya bekas telapak kaki Nabi Ibrahim ketika sedang membangun Ka’bah. Istilahnya lift ketika Nabi Ibrahim menaruh beberapa batu di atas Ka’bah. Sedangkan Multazam itu antara HajarAswad dan pintu Ka’bah. Jika berdoa khusu di sana doa kita akan dijawab. Dan ada beberapa teman yang sudah merasakannya.

 

Ketika melakukan thawaf, semua manusia tumplek menjadi satu. Semua berbaur yang miskin yang kaya, yang cantik yang jelek, yang wangi dan yang bau, yang hitam yang putih. Dan mereka tak perduli satu sama lain apakah di sampingnya seorang artis atau pejabat. Semua terfokus ke Ka’bah.semua khusu’ dan khidmat menyebut asma Allah dan membacakan doa.

 

Usai Thawaf kita berlanjut ke Sa’I, berjalan selama 7 kali antara bukit Safa dan bukit Marwah. Bukit Safa yang masih berdiri tegak dan dipakai pagar kaca, sedangkan bukit Safa sudah mengecil dan dijadikan tenpat untuk duduk atau sholat. Agar aman, bukit itu seperti di las hingga licin dan tak bisa melukai orang yang menginjakan kakinya di sana. Selama Sa’I gw membayangkan ketika Siti Hajar berlari kecil memutar sebanyak 7 kali untuk mencari air bagi anaknya yang masih bayi yakni Nabi Ismail. Gw takjub melihat kesabaran Siti Hajar, meski Siti Hajar sudah dijamin kalau hidupnya akan dilindungi oleh Allah saat itu ketika ditinggalkan Nabi Ibrahim tapi Siti Hajar tetap berusaha berlari sebanyak 7 kali dan akhirnya ditunjukan pusat air yang sekarang dikenal sebagai Air Zamzam. Pelajaran yang gw dapat: MESKI GW YAKIN DOA GW DIKABULIN KETIKA BERDOA DI MULTAZAM, HIJR ISMAIL,MAKAM IBRAHIM DAN RAUDHAH, TP KITA HRS TTP BERUSAHA. Agree??

 

Selama Sa’I gw lirak lirik kea rah Ka’bah yang berada di samping kanan ketika dari Marwah ke Safa. Perasaanya gimanaaa gitu, dan Ka’bah seperti melihat gw. Usai Sa’I kita melakukan Tahallul yaitu potong ujung rambut kanan, kiri dan tengah sedikit saja. Setelah itu Alhamdulillah, Umrah pertamaku selesai.

Bersambung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s