CERPEN; ANITA

Anita termangu membaca headline sebuah koran metropolitan yang bertajuk Para Siswi SMP Jakarta Tertangkap Menjajakan Diri di Mal. . Cara ABG Menjajakan Diri: Nongkrong di mal-mal, lewat mucikari dan lewat situs internet. Modus di Mal: Nongkrong di kafe, Pura-pura belanja, Nongkrong dekat eskalator dan nongkrong di dekat deretan ATM.

Wajah Anita serius membaca satu persatu berita yang ada di koran itu. Lalu dihembuskan nafas panjang seakan ingin mengeluarkan beban yang memberatinya. Anita berjalan ke arah lemari di mana ada cermin di sana. Dicermati postur tubuhnya yang mungil, kulitnya yang coklat dan wajahnya yang biasa saja. Bertengger kaca mata minus dan rambut panjang sebahu yang lurus. Tubuhnya bisa dibilang kerempeng.

Apa ada yang mau melihat aku jelek seperti ini? Apakah mereka tertarik melihat aku? Anita membatin.
Lalu kembali diambilnya koran tersebut dan kembali dilihatnya. Anita terihat ragu. Sudah sebulan bulan belakangan Anita resah melihat kehidupan keluarganya selalu dikelilingi kemiskinan. Ibunya selalu marah-marah karena letih menjadi tukang cuci. Jika di rumah, Anita selalu menjadi tumpahan kemarahan ibunya yang juga stres karena ditinggal ayah Anita tanpa uang sedikitpun.

Anita juga muak dengan lingkungan sekolahnya yang selalu nge-gank. Kumpulan anak orang kaya, kumpulan anak pintar dan kumpulan anak gaul. Sedangkan dia? Menjadi kelompok marginal yang tak pernah dianggap.
Dua minggu lalu Anita pernah mendengar pembicaraan temannya yang masuk genk anak gaul. Ria, Dora, Sita dan Baby. Di belakang sekolah mereka cekikikan sambil bercerita yang menegakan bulu kuduk Anita.
“Gila lo, pasti nggak bakal nyangka. Kemarin si mami kasih gue om yang royal banget. Ini ke dua kali gue dipake dia. Dan elo liat sekarang, gue di beliin hanpdhone terbaru. 4 juta ni bo,” Ria memamerkan handphonenya yang berwarna pink. Teman-temannya terbelalak.

“Hebat lo Ri. Beruntung lo! Gue cuma dapat 300 ribu doang. Standarlah. Ntar gue minta mami kasih om tajir kayak elo begitu,” suara Sita terdengar iri.
“Sabar Sit. Lo kan masih baru, jadi uang lo belum cukup beli hp begini. Santai aja,” Dora tertawa sambil mengedipkan mata kea rah Ria yang dibalas dengan cengiran.

“Iyaa.. yang senior….udah tajir.. Nyokap bokap elo udah curiga belum,” suara Baby terdengar.
“Nggaklah. Gue kan jago bersandiwara. Artis gitu loch..” Dora tertawa bangga.
Anita yang menguping terbelalak kaget dan langsung ngacir.

BUK! Buk! “Anitaaa…..jangan tidur aja kamu…bangunnn.. Bantu ibu…”

Anita tersentak. Ibunya menggedor pintu kamar dengan sekuat tenaga. Langsung dilipatnya koran dan membuka pintu kamar. Wajah ibunya terlihat letih. Meski usianya masih 40 tahun, guratan keletihan sangat terlihat jelas. Anita mengeluh di dalam hati.

“Kamu tidur terus. Pemalas! Bantu ibu nyetrika!!” Ibu berteriak sambil menunjuk ketumpukan baju di pojokan ruangan.
“Ibu jangan marah-marah terus kek. Aku akan bantu..” Anita menggerutu melihat ibunya matanya melotot.
“Kamu nggak ngerti! Ibu ini capek dari pagi nyuci. Cari uang untuk bayar sekolah kamu! Kamu ngapain? Cuma sekolah, makan, tidur..” Ibu Anita langsung mengambil setumpuk cucian dan menaruhnya di depan Anita.
“Nih, kamu setrika. Ibu mau ke rumah Ibu RT.”

Anita bergumam kesal. “Nanti aku akan kerja bantu ibu..”

Ibu Anita yang sudah berjalan langsung berhenti dan menoleh. “Kerja apa kamu? Anak ingusan mau cari kerja! Sarjana pada nganggur. Kamu lagi masih SMP mau kerja.” Ibu Anita menggerutu dan ke luar rumah.

Anita berjalan perlahan sambil menunduk. Bel pulang sekolah sudah berbunyi 10 menit yang lalu. Kepalanya mendongak ketika mendengar beberapa temannya sedang tertawa gembira. Di depannya dilihat Dora, Sita, Baby dan Ria sedang menunggu bajaj. Anita langsung berhenti. Sebuah rencana langsung menggelayuti kepalanya.

Setelah ke empat temannya itu naik bajaj, Anita langsung menyetop angkot yang lewat di depannya. Dia berhenti di sebuah mal yang lumayan jauh dari sekolah. Mata Anita langsung mencari empat sosok temannya. Jantungnya berdegup ketika melihat mereka sedang berbicara dengan seorang pria muda yang terlihat kebanci-bancian. Ke empat temannya sudah berganti baju. Mereka terlihat seksi dan berani. Mengenakan rok pendek dan celana pendek. Wajah mereka juga di make up. Tak terlihat sekali kalau mereka anak SMP.

Anita melihat Dora melambai ke seseorang. Dora menjauh dan mendekati seorang pria yang tak jauh dari eskalator. Anita memperhatikan satu persatu temannya yang berpisah. Mata Anita juga jelatan memperhatikan eskalator, dan tempat ATM. Benar apa yang aku baca di koran. Banyak anak perempuan yang mangkal, Anita berkata dalam hati.
Rata-rata anak gadis itu mengenakan baju kasual. Tak seperti perempuan nakal, tapi gesture mereka seakan mengundang pria yang melirik. Selama dua jam, Anita memperhatikan gerak-gerik ABG yang mangkal di mal. Rencana baru kembali bergelayut di kepalanya. Anita pulang ke rumah dengan kepala yang penuh akan rencana baru.

Sudah lewat tengah malam. Tapi mata Anita sulit terpejam. Badannya dibolak balik dengan resah. Diliriknya baju yang digantungnya di lemari. Sesorean tadi, Anita sibuk memilah baju yang akan dikenakannya untuk besok. Tak ada satupun baju yang layak dipakai ke mal. Celana jeans yang dimilikinya sudah belel dan ketinggalan tren. Kaosnya juga sudah agak lusuh.
Ada satu baju bekas lebaran kemarin. Meski modelnya juga tidak trend dengan warna ungu, tapi Anita sudah mencobanya dan lumayanlah dari pada tidak. Anita juga mencoba memakai lipstik ibunya yang sudah mau habis. Warnanya sangat merah. Wajahnya jadi terlihat tua dari usia yang sebenarnya.

Dada Anita bergemuruh jika mengingat kenekatannya untuk datang ke mal dan bergabung dengan ABG lain. Apakah ini jalan pilihanku? Apakah ini jalan yang benar? Tapi inikan dosa…Batinnya terus berkecamuk sehingga Anita letih dan matanya terpejam.

Anita melangkah ragu keluar dari toilet mal. Seragam sekolahnya sudah dilepas dan diganti dengan jeans serta kaos berwarna ungu yang dipilihnya. Rambutnya yang lurus dibiarkan tergerai. Anita memoleskan tipis lipstik milik ibunya. Sejak semalam Anita sudah berlatih bagaimana mengatur mimik wajahnya sehingga terlhat pede dan cantik.
Anita pura-pura masuk ke sebuah toko baju. Dia sok sibuk mencari-cari kaos. Hatinya berdesir begitu melihat harga baju yang menurutnya mahal. Cuma kaos saja lima puluh ribu?

“Ih, murah banget. Cuma lima puluh ribu. Kemarin gue lihat kayak gini persis tujuh puluh lima ribu di mal sebelah. Di sini murah banget ya,”Anita menoleh. Dia melihat dua gadis seumurannya sedang sibuk mencari-cari baju.
“Kan gue bilang dari tadi. Lo belanja di sini aja. Lebih murah,” kata temannya yang satu.

Anita memperhatikan keduanya dari ujung kaki hingga rambut. Semua yang dikenakan gadis itu terlihat mahal dan baru. Belum lagi ponsel mahal yang mereka genggam dengan gaya. Anita mendadak minder.
Kedua gadis itu menoleh melihat Anita dan mereka berbisik sambil tersenyum sinis. Tatapan mata mereka meremehkan penampilan Anita. Anita langsung keluar toko itu. Wajahnya terasa panas.

Dihampirinya deretan mesin ATM. Dia melihat ada dua gadis berdiri di sana. Seperti pura-pura ingin mengambil duit di ATM. Apakah mereka sedang mencari mangsa? Anita melirik kedua gadis itu. Yang satu mengenakan rok pendek, malah sangat pendek. Dengan baju seksi yang memperlihatkan punggungnya. Sedangkan yang satu lagi masih lebih sopan. Celana pendek yang dipadukan dengan kaus berleher Sabrina.

Anita pura-pura sibuk mencari dompetnya. Wajahnya dipasang sedemikian pede. Sudah lima menit berdiri di situ, Anisa merasa ada dua pria setengah baya meliriknya sambil senyum. Anita mencoba membalas senyum mereka.
Kalau mereka menghampiriku, apa yang harus aku lakukan? Belum selesai berfikir Anita sudah dikejutkan dengan sapaan seorang wanita di sampingnya.

“Halo sayang…” Anita menoleh. Wanita setengah baya dengan dandan menor memberikannya senyum. Anita membalasnya dengan ragu.

“Ikut mami yuk..”wanita itu memegang tangan Anita dengan lembut dan menariknya.
“Hhh.. kemana..” Anita mengikuti saja tanpa daya. Wajahnya kebingungan.
Mereka masuk ke sebuah kafe. Anita ikut saja dan duduk di sebelah wanita itu. Wanita itu langsung memesan minum untuk Anita. Setelah itu, si wanita memandang Anita dengan lembut sambil tersenyum.

“Kamu yakin mau seperti ini?”

Anita gelagapan…”Maksud tante…”
“Panggil saya mami. Jujur saja sayang. Mami tahu kamu sedang apa di sana…” si mami memegang wajah Anita dengan lembut.

Anita menunduk. Jantungnya berdebar kencang. “Umur kamu berapa?”

“14 tahun..”

“Kamu tahu akibatnya kalau kamu berhubungan intim di bawah umur? Kamu bisa terkena kanker rahim sayang. Bagaimana kalau hamil? Kamu bisa keguguran karena rahim kamu belum kuat, Dan efeknya justru semakin parah. Kamu bisa mandul. Lalu kalau kamu hamil,Bagaimana? Aborsi? Itu namanya pembunuhan, ”wajah mami serius.

Anita menunduk semakin dalam. Raut wajahnya terlihat semakin ragu. “Kalau kamu yakin, mami punya kenalan yang bersedia bayar 5 juta. Kamu belum pernah kan sebelumnya?”

Anita mendongak. Senyum kecil mampir di wajahnya. Pikirannya sudah tertuju uang 5 juta.
Mami melihat senyum itu semakin semangat menawari Anita. “Nama kamu siapa?”
“Anita..”
“Oke Anita. Kalau kamu mau, mami telpon teman mami itu. Setelah itu kamu bisa bawa pulang 5 juta. Tapi sebelumnya kamu harus ganti baju dulu. Baju kamu sudah kuno.”

Mami membuka tasnya. Di dalam tas itu, Anita melihat beberapa baju warna-warni dan rok serta celana pendek. Mami mengambil satu baju berwarna biru. Potongannya terlihat seksi, di bagian dada agak rendah.
“Toilet di belakang. Kamu ganti di sana ya..”

Anita mengangguk nurut dan berjalan ke belakang. Begitu Anita pergi, mami langsung mengambil ponselnya dan mulai menelpon dengan wajah serius.

Tangan Anita sibuk menarik bajunya agar menutup dadanya. Baju itu begitu seksi dan Anita sedikit pangling dengan penampilannya. Mami tersenyum melihat Anita datang.“Kamu seksi kan. Harusnya kamu nggak usah pakai kaca mata. Tapi nggak apa-apa. Besok kalau sudah ada uang kamu bisa pakai soft lens,” mami tersenyum lagi.

Anita tersenyum senang. Sudah sejak lama dia menginginkan soft lens. “Mata kamu bagus, alis kamu juga. Kalau pakai soft lens kecantikan kamu jadi keluar.” Mami terus memuji meski di kepalanya tersimpan rencana. Anita semakin senang. Baru sekali ini ada yang memujinya. “Yuk..” mami menarik tangan Anita.
“Kemana mam..”
“Orangnya nggak mau ketemu di sini. Katanya ramai, jadi kita samperin aja ke apartemennya.”

Anita mengikuti tanpa banyak bicara. “Orangnya royal Nit. Kalau kamu bikin dia seneng, kamu pasti akan dikasih lebih. Dia langganan VIP mami,” mami bercerita. “Nanti kamu, mami anter ke sana. Mami akan tunggu di lobi, kamu naik sendiri ke kamarnya.”

Anita menoleh spontan. Wajahnya ragu. “Aku sendiri ke atas? Kenapa nggak mami anter aku sampai ke kamarnya..”

Mami menatap wajah Anita lalu mengangguk. “Oke, setelah itu mami akan tunggu di lobi bawah. Kamu ikuti apa kata dia.”
Di sebuah apartemen lantai 20, mami mengetuk sebuah kamar. Pintu kamar dibuka dan seorang pria setengah baya sudah di depan kamar sambil tersenyum. Dia mempersilahkan Anita dan mami masuk.

“Ini Anita? Kamu cantik….” pria itu memuji Anita sambil tersenyum ramah. Anita hanya diam. Lalu mami dan om itu pergi ke ruangan lain. “Dapat anak baru dari mana lagi mam..” Si Om tersenyum sambil menyerahkan amplop yang berisi uang.
“Pokoknya om tenang saja. Pelayanan dari mami selalu memuaskan. Ini sudah 20 juta?” Mami membuka amplopnya.
Si Om mengangguk. “Oke, mami percaya om. Mami tunggu di lobi bawah. Dia masih baru, jadi pelan-pelan lah…” Mami tertawa senang.

“Tenang saja mam, ini bukan pertama kali kan…”

Mami keluar kamar. Sedangkan Si Om menghampiri Anita sambil tersenyum. “Mau minum apa Anita. Juice ya…” Si Om menghampiri kulkas. Anita hanya mengangguk. Dia merasa asing di tempat itu.
“Anita.. kita minum di kamar yuk…”

Anita mengikuti saja. Anita duduk di pinggir tempat tidur. Kamar itu terlihat mewah dan sejuk. Si Om menghampiri Anita dan duduk disampingnya. Anita hanya diam. Lalu Si Om mulai memegang tangan Anita dengan lembut, kaca mata Anita dibukanya. Anita hanya terdiam dan pasrah….

Sepuluh menit kemudian, mami dikagetkan dengan sosok Anita yang keluar melewati lobi sambil berlari kencang. Bersamaan dengan itu, handphone mami berbunyi. “Ada apa om..”

“Anak kurang ajar! Baik om, saya akan ke atas.” Mami mematikan ponselnya sambil menuju lift dengan wajah geram.

SELESAI (Majalah Teen, Juli 2010)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s