CERPEN: SURAT KE TUJUH

Image

 

Nuri memberikan sebuah surat bersampul pink ke Erik. Ini surat ke tujuh yang dititipkan Lita untuk diberikan ke Erik, cowok incerannya. Wajah Nuri terlihat bete. Erik menerimanya dengan wajah berseri tapi langsung menoleh begitu melihat Nuri yang cemberut.

“Tumben lo bete gitu. Biasanya paling seneng jadi pembantunya Lita.’’

Nuri mengerling sebal. “Kenapa sih elo berdua nggak pake sms atau email. Jadul amat sih surat-suratan.”
“Yee elo nggak tahu sih nikmatnya surat-suratan. Beda kalau pakai email atau sms. Tambah deg-degan, bikin gue bisa baca puluhan kali. Tulisan tangannya itu yang bikin gue merasa selalu dekat dengan dia,” Erik cengar-cengir. Tapi langsung terdiam begitu melihat Nuri yang cemberut.

Selama tujuh kali menerima surat dari Nuri, Erik merasa ada yang berbeda dari Nuri dan Erik merasa makin akrab dengan gadis kurus itu. Selama ini, Erik menganggap Nuri cewek biasa yang jauh dari popular di sekolahnya. Kurus, tidak cantik dan tidak seseksi Lita. Pandangan Erik menjadi lain selama tujuh kali bertemu terus menerus dengan Nuri.

Cewek ini beda sama Lita. Ada yang menarik yang nggak bisa gue sebutkan. Ah, gila. Kok, gue jadi mikir ngawur begini sih, Erik membatin dan tergagap begitu beradu pandang dengan Nuri.Dada Nuri langsung berdesir begitu menoleh ke Erik yang sedang memperhatikannya. Erik dan Nuri jadi salah tingkah. Nuri langsung berdiri dan pergi tanpa sepatah katapun. Sedangkan Erik hanya memandangnya dari kejauhan.

Nuri membolak-balik tubuhnya. Malam itu mata Nuri sulit sekali terpejam. Wajah Erik dan tatapan matanya yang tak bisa di ungkapkan terus bermain di kepalanya. Erik memang tampan. Bahkan paling tampan di sekolah. Ikut basket, ikut OSIS, orang kaya dan banyak banget penggemarnya. Seandaianya… dia suka aku. Apa arti tatapannya itu?Ah, ngaco. Siapa gue? Erik tahu gue cuma orang suruhannya Lita. Gue Cuma dijadiin bulan-bulanan Lita supaya bisa ikut genknya dia yang popular. Gue nggak kaya, gue nggak cantik, apa kelebihan gue?

Nuri menarik nafas. Seandainya gue sejajar sama Lita dan cewek popular lain di sekolah, gue pasti berani bersaing untuk mendapatkan Erik. Ah, ngaco lagi. Nuri tak bisa menahan kalimat saling sahut menyahut di kepalanya. Akhirnya Nuri tertidur.

Di sebuah rumah mewah, seorang cowok tampan sedang menatap langit kamarnya. Erik bingung, sejak bertemu dengan Nuri tadi siang pikirannya tak bisa lepas dari gadis sederhana itu. Erik merasa menemukan kenyamanan jika berada dekat dengan Nuri. Tujuh kali bertemu karena surat dari Lita, semakin mengenalkan sosok Nuri di mata Erik.
Nuri sangat berbeda dengan Lita. Nuri sederhana, Nuri pintar dan Nuri seakan memberikan magnet bagi Erik untuk terus dekat. Nuri membuat aku nyaman dan damai, bisik hati Erik. Erik tertidur dengan senyum di bibirnya.

Lita menutup pintu mobil Honda Jazz nya dengan ceria. Begitu melihat sosok Nuri, Lita langsung berlari kecil. “Hai Nur.”
Nuri menoleh kaget. Wajahnya tersenyum di paksakan. “Gimana Nur, surat gue udah dikasih ke Erik kan..”
“Udahlah, katanya makasih.”

“Kok, makasih doang sih…” Lita bersungut manja. Nuri menoleh melihat wajah Lita yang cantik dan menggemaskan. Mana ada pria yang menolak dia untuk dijadikan pacar. Pria bodoh yang menolak Lita. Nuri jadi mendadak minder membandingkan dirinya dengan Lita untuk memperebutkan Erik. Nuri merasa jadi sangat malu.
“Gue nggak tahu. Lo sms aja dia. Dia nggak ngomong banyak sih.”

“Gue kan udah kasih elo tugas penting ini Nur. Elo harus terima kasih sama gue dikasih kesempatan untuk dekat-dekat Erik. Jarang ada cewek dekat dengan Erik yang cakep itu. Apalagi cewek kayak elo begini…”
Dada Nuri terasa sakit. Tapi dia sudah terbiasa mendengar kalimat menyakitkan dari Lita. “Maaf Lit, ntar kalau ketemu Erik gue tanyain deh apa tanggapannya.”

“Nggak usah. Biar gue aja nanti yang langsung ngomong ke dia. Ada yang penting mau gue omongin tanpa elo tahu.” Lita meninggalkan Nuri dan menghampiri Beka dan Jesi, satu genknya yang cantik dan tajir.Nuri hanya menunduk. Tanpa Nuri tahu, ada sepasang mata memperhatikannya dari kejauhan.

Nuri sedang siap-siap membereskan tasnya. Lima menit yang lalu bel sekolahnya berdering. Beberapa temannya sudah angkat kaki dari kelas. Tiba-tiba Nuri dikagetkan dengan kedatangan Lita sambil menangis sesungukkan.
“Nuri…..kenapa jadi begini…” Lita mengusap air matanya dengan tisu. Sudah ada beberapa tisu basah di tangan satunya lagi.
“Kenapa Lit…”
“Ini pasti gara-gara elo yang salah ngomong. Lo ngomong apa aja ke Erik. Elo pasti kasih tahu Erik kalau gue pacaran sama Tio. Ayo, ngaku.. padahal gue pacaran sama Tio cuma main-main. Gue mau serius sama Erik, tapi dia….” tangis Lita pecah seketika. Nuri bingung.
“Gue nggak ngerti maksud lo apa Lit. Nggak mungkin gue ngomong ke Erik kalau elo jadian sama Tio. Elo tau gue kan, nggak mungkin gue kayak begitu,” wajah Nuri panik.
“Iya tapi kenapa Erik bilang nggak mau lagi ketemu gue. Nggak mau lagi surat-suratan sama gue. Katanya dia sudah menemukan cewek yang lain. Elo harus jujur sama gue Nur, siapa cewek itu. Erik ngomong apa aja kemarin, ngomong….” Lita menarik tangan Nuri dengan kasar. Nuri hanya terdiam.“Gue nggak mau lagi temenan sama elo. Elo bikin sial! Habis ini elo jangan ikutin gue lagi. Awas!” Lita berjalan ke luar kelas sambil menghapus air matanya.

Nuri termangu. Nuri berjalan ke luar kelas sendiri. Di halaman parkir, Nuri melihat Erik yang tersenyum kepadanya. Erik menghampirinya. “Gue anter Nur.”

Nuri terbelalak. “Lo apain Lita sampai nangis begitu..”

“Ah, biasa dia emang begitu. Semenit lagi juga ketawa-ketawa lagi. Gue tahu dia udah pacaran sama Tio. Kayaknya dia cuma mau mainin gue doang. Mending gue cari yang masih jomblo. Gue anter yuk.” Erik menarik tangan Nuri dengan lembut. Nuri hanya terpana tanpa bisa berkata apa-apa. Diikuti saja langkah Erik ke arah mobilnya. ****

SELESAI ( TEEN MAGAZINE, AGUSTUS 2010)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s