Lebaran Pertama yang Selalu Sama

Minal Aidin Walfaidzin Mohon Maaf lahir dan Batin…

Idul Fitri buat saya memberikan rasa yang menyedihkan dan menyenangkan. Kenapa sedih? Karena saya harus meninggalkan bulan Ramadhan, bulan penuh ampunan, bulan keberkahan, bulan Insya Allah doa kita diijabah, bulan yang penuh rahmat dan kedamaian. Bulan Ramadhan selalu memberikan sensasi tersendiri, senang melihat semua orang berpuasa tanpa ada yang merokok sembarangan, semua menjaga diri, dan berpuasa tanpa merasa berat dan kelaparan.

Lalu apa yang menyenangkan? Buat saya menyenangkan bukan karena bisa lagi makan siang, tapi menyenangkan karena bisa silaturahim dengan keluarga besar, tentu…karena ada ketupat!! Saya nge-fans berat sama ketupat dan rekannya itu, yakni lontong. Lebaran juga bisa mencicipi makanan enak.

Lebaran pertama di rumah nyaris selalu sama. Tapi tahun ini saya punya bayi setelah sembilan tahun melahirkan terakhir. Takbiran, untung mama datang membantu buat ketupat dan teman-temannya, seperti sayur, rendang (ini pesen deng), dan lain-lain. Pagi di bulan Syawal seperti biasa sholat Ied di mesjid dalam komplek. Karena semua pendatang di komplek ini, nyaris semua penghuninya mudik. Alhasil, mesjid kecil itu tak begitu sesak oleh orang yang shalat.

Niat tadinya nggak mau shalat karena bisa mengganggu jamaah lain jika bawa baby, tapi karena nyokap berargumen dengan alasan kuat sambil mempresentasikan kasur kecil kalau bawa baby nggak ngerepotin jamaah lain (ini kayaknya modus supaya nyokap minta ditemenin), akhirnya saya dan baby Fatih yang belom mandi ke mesjid. Kita memilih saf belakang, kalau si baby nangis tetiba saya bisa kabur pulang. Tapi Alhamdulillah yah (gaya syahrini) baby Fatih anteng sampai ustad selesai khutbah. Tau gak, apa yang membuat baby Fatih anteng? Saya yang lagi sholat nggak konsen, karena si baby asik mengisap-isap kain gendongan.

Selesai sholat, di rumah maaf-maafan, juga ke nyokap dan suami (maaf ya kita nggak pake sungkem2an sambil nangis-nangis ala sinetron). Terus makan ketupat, terus tetangga datang atau ngider ke tetangga yang nggak mudik, terus pulang, tidurrrrr….kacaukannn,, memprihatinkan sekali ya lebaran di keluarga gue tiap tahunnya wkwkwkwk’

Baru deh di lebaran kedua, kita hajar silaturahim ngider ke beberapa saudara di Jakarta. Ibaratnya kita (di Serpong) mudik dari kampung ke kota (Jakarta). Minal Aidin walfaidzin maaf lahir batin guyssss

2 thoughts on “Lebaran Pertama yang Selalu Sama

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s