(CERPEN) 3 Perempuan 3 Cerita

 

 

 3-perem

Oleh : Alia Fathiyah

  Cerita Eva

Eva menghisap rokok dalam-dalam lalu dihembuskan, tak peduli mengenai wajahnya yang pucat. Matanya yang bulat dilingkari bayangan hitam di bawahnya, matanya bengkak dan memerah. Sudah 2 minggu Eva terus-terusan menangis. Tak dipedulikan Andi, bocah 7 tahun yang terlihat makin ceking karena tak tersentuh tangannya sendiri, sang bunda.

Eva kembali menangis begitu mengingat kejadian 2 minggu lalu. Pertemuannya dengan Ahmed, pria asal Mesir yang membuatnya melakukan hal yang selama ini dijaga. Tapi Eva tak bisa menyangkal terselip sensasi berbeda yang selama ini dicarinya. Sensasi yang dirasakan jika dirinya ternyata layak dicintai.

 

Eva tertawa-tawa bersama Lita dan Nuning di kegelapan sebuah pub. “Arab semua nih,” Eva tertawa sambil melihat sekeliling pub. “Ning, tau aja elo tempat kayak begini,” teriak eva di tengah hentakan musik yang bising.

“Va, ada Arab tuh ngelirik elo dari tadi,” Lita melirik seorang pria Arab tinggi besar berwajah ganteng sedang menatap Eva lekat-lekat.

“Apaan sih, gue lagi gendut begini,” tawa Eva sambil mengibaskan rambutnya yang panjang. Tapi terselip pula rasa senang.

“Nggak kelihatan Va,” sahut Nuning.

“Va, kalau elo berani deketin Arab itu, gue traktir elo. Jangan cemen deh kalau jalan sama kita,” Lita menantang sambil mengedipkan matanya.

Ditantang begitu Eva nekat mendekati si Arab yang sedang duduk dengan seorang temannya. Tak lama Eva terlihat tertawa-tawa bersama dua pria itu, terlihat merajuk dan memperlihatkan gerakan tubuh menggoda. Nuning dan Lita tertawa saling pandang-pandangan. Musik makin menghentak, kegelapan malam semakin larut, Eva semakin terbuai untuk menebarkan pesonanya ke pria Arab yang bernama Ahmed itu.

 

Sinar matahari membangunkan Eva yang tertidur. Terlihat Andi sedang asik bermain playstation. “Ma, Andi laper,” sahut bocah itu sambil matanya tak lepas dari layar monitor TV.

Eva melihat jam, waktu sudah menunjukkan pukul 11 siang. Sebentar lagi makan siang, Eva membuka kulkas, hanya selembar daging ham. Ketika sedang menyiapkan makan, BlackBerry-nya berdering nyaring.

“Haloo..” Eva malas-malasan menjawab.

“Oh, Hai Ahmed how are you?”Eva mengucapkannya dengan patah-patah. Wajahnya mendadak ceria.

“What time? Ok, I’ll waiting you,” Eva tertawa manja.

Setelah menyiapkan makanan untuk Andi, Eva ke rumah Nuning yang tak jauh. “Ning, Ahmed mau ajak gue jalan. Dia minta dianter ke Dufan dan Puncak, gue titip Andi ya.”

Nuning tertawa. “Cepet bener dekatnya nih. Hati-hati,” Nuning menunjuk perut Eva.

“Tenang, gue nggak akan macem-macem. Elo tau gue laa.”

Hari itu Eva menemani Ahmed bersama rekannya Husin ke Dufan. Kedua pria Arab itu terlihat jengah ketika melihat para gadis ABG yang mengenakan tanktop dan celana pendek. Selama beberapa hari Eva menemani Ahmed dan Husin berjalan keliling Jakarta, dia sangat takjub dengan kesopanan kedua kawan barunya itu. Eva kadang tertawa kecil begitu melihat jejeran bulu halus di tangan Ahmed, juga bekas cukuran di wajah pria berbibir merah itu. Terlintas desiran di dadanya, begitu hangat.

“Saya diberitahu teman ada tempat hiburan khusus orang Arab di Puncak, kamu mau mengantar saya ke sana?”

“Ya, of course!” Eva sudah berani memegang tangan Ahmed.

“Kamu tidak takut kepada saya? Mungkin saya culik?”Kata Ahmed tertawa sambil mengusap lembut bahu Eva.

“Diculik pun saya mau,” balas Eva dengan manja.

Berbekal mobil sewaan, Eva bersama Ahmed dan Husin menuju Puncak. Eva terbelalak melihat keriuhan di beberapa villa yang semuanya diisi orang Arab dengan para wanita muda yang berdandan menor dan seksi. Yang makin membuatnya kaget bercampur geli, beberapa pengendara motor memboceng para gadis sambil berteriak, “ladies, ladies..”

Sedangkan para ladies yang dijual itu malah tersenyum sambil melambaikan tangan menunggu ada pria Arab yang membelinya dan bisa membawanya ke kamar. Eva menggoda Ahmed, sedangkan Husin sudah memilih seorang ladies yang mungil dan geulis.

“Bukan tipe saya,” kata Ahmed singkat.

Melihat Ahmed yang dingin Eva semakin menggoda. Ahmed tak menghiraukan godaan Eva, dia malah mengajaknya ke sebuah ruangan besar yang mirip pub kecil di sebuah villa. Eva tertawa begitu melihat sekelompok pria Arab yang banyak ditemani para gadis muda dari desa tersebut.

Ahmed dengan lembut memberikan jaket lalu membungkus tubuh mungil Eva. Tanpa disadari Ahmed telah mengelus dibeberapa bagian tubuh Eva, wanita itu terlihat terlena. Hingga tanpa disadari keduanya sudah melucuti pakaian masing-masing. Ahmed terkejut melihat perut Eva yang sedikit besar.

“Kenapa perut kamu? Hamil?”

Eva tertawa sambil menggelengkan kepalanya, “No big deal.”

Eva semakin larut dengan kelembutan Ahmed yang selama ini tak pernah didapatnya dari Surya. Eva semakin terlena dan semakin dalam hingga akhirnya menikmati segala yang diberikan Ahmed. Malam semakin larut, semakin gelap.

 

Eva terbangun di pagi hari. Wajahnya pias pucat, jantungnya menderu kencang, Eva langsung berlari kecil ke  arah kamar mandi. Tubuhnya lemas, menggigil. Dilihatnya sepercik darah di celana dalamnya.

 

Wajah Nuning cemas melihat darah semakin banyak keluar. Eva lebih cemas lagi dan terus menerus menangis. Dokter terlihat sibuk sedang memeriksa perut Eva. “Ning, gue udah membunuh bayi ini. Gue pembunuh Ning..” Eva sesungukkan.

Nuning mengusap bahu Eva dengan lembut. “Gue akan cari duit pinjaman untuk kuret ini. Tenang aja.”

“Gue pembunuh Ning…gue pembunuh…” Eva menangis histeris.

 

Eva kembali menghisap rokok dalam-dalam. Kejadian dua minggu lalu telah membuatnya melakukan kesalahan dua kali dalam hidupnya. Hidup 14 tahun bersama Surya sudah membentuk dirinya makin menjauh dari Tuhan.

“Dasar pezinah, dasar pelacur. Lihat tuh Anisa anak haram, lo melakukan sama siapa?” Surya terus-terusan membisikan kalimat tersebut ke kuping Eva.

Eva berusaha sabar dan hapal kelakuan Surya yang selalu berhasil membuatnya emosi. Selama belasan tahun hidup dengan Surya, Eva sudah kenyang dengan kekerasan fisik dan jiwa yang tak henti diterimanya. Tapi Eva selalu kalah, Surya selalu menjadi pemenang untuk memprovokasi dirinya.

“Dasar iblis lo!” Eva menampar Surya. Surya tidak terima langsung balik menampar Eva sampai terjatuh hingga darah keluar dari bibirnya. Anisa yang melihat hal itu masuk ke dalam kamar lalu menutup pintu dan menguncinya. Terdengar suara musik keras dari kamar Anisa. Sedangkan Andi langsung mendekati Eva, tapi hanya duduk. Bocah 7 tahun itu tak tahu harus melakukan apa.

“Dasar pelacur!!” Surya kembali menendang Eva yang hanya meringkuk di lantai sambil menangis. Andi berteriak. “Papa berhenti!! Papa jahat!!”

Surya langsung keluar rumah dengan nafas memburu. Memukul Eva merupakan kegemarannya dan semakin lama dirinya justru semakin ketagihan jika melihat istrinya meraung kesakitan dan memohon.

Andi memegang tangan Eva dengan bingung. Wajahnya memancarkan kebingungan dan kemarahan seorang anak,. “Kita pergi aja ma, nggak usah dengan papa.”

Eva menangis semakin keras.

 

Cerita Erna

“Iya sayang….aku kangen nih sama kamu. Kerja terus sih,” suara Erna merajuk, lembut dan menggoda. Lalu dia berdiri dan bercermin. Malam itu dia hanya mengenakan tanktop dan celana pendek. Tanktopnya yang ketat seakan tak mampu menahan beban dada Erna yang berukuran besar.

“Kamu nggak kangen dengan titoti, hihihi…”Erna tertawa manja sambil memegang sepasang dadanya itu. Dia menamakan kedua payudaranya itu Titoti.

“Besok yank di hotel biasa ya..”

“Oke, bye.” Erna memberikan kecupan di telpon lalu tersenyum. Terdengar pintu rumah di buka. Erna keluar kamar dan melihat Andi, suaminya pulang. Andi tak memperdulikan Erna yang sejak tadi memasang wajah tersenyum. Andi langsung masuk kamar yang lain tak mengindahkan Erna yang berdiri di situ.

Erna membuka pintu kamar Andi. Baru dibuka sedikit sudah terdengar bunyi keras. “Keluar!!” Andi melempar sepatunya ke arah pintu. Erna kaget, langsung berlari masuk ke kamarnya.

Tak lama BlackBerrynya berdering. Erna tersenyum melihat nama di layar BlackBerry. “Hai Om, kok belum tidur sih. Masih mikirin aku ya.”

“Besok aku nggak bisa om, aku lembur. Bagaimana kalau lusa? Oke Om, jangan lupa janjinya ya. Bye.”

Erna tertidur dengan senyum membayangkan dua pria simpanannya menjanjikan hal yang membuatnya menunggu selama ini. Erna sangat menikmati jika para pria itu mendambakan dan merindukannya.

 

Erna sudah siap dengan baju kerja. Begitu dilihatnya Andi sedang minum kopi di dapur, Erna langsung menyodorkan seberkas surat. “Tandatangan mas.”

“Apa ini?” tanya Andi dengan kasar.

“Surat cerai.”

“Kalau kamu mau bercerai, kamu harus tinggalkan rumah ini jangan membawa apapun,” Andi melotot.

“Tapi ini rumah aku mas, motor dan mobil juga aku yang beli. Aku rela kalau kita bagi dua.”

“Jadi maksud kamu selama ini aku nebeng hidup sama kamu? “ Andi menjulek kepala Erna lalu keluar rumah sambil membawa kunci mobill yang tadinya akan dipakai Erna.

Erna menghela nafas panjang.

 

Jon Li menyodorkan segepok uang di dalam amplop coklat ke arah Erna. Erna menerimanya dengan senang hati sambil tersenyum lalu dimasukkan ke dalam tasnya. Jon Li menatap Erna lekat sambil menunggu reaksi wanita berbibir tebal dan lebar itu.

“Apa lagi koh?”

“Sudah seminggu elo belum melayani gue,” kata Jon Li dengan logat khas Cina.

Erna tersenyum senang, dia sangat hapal menggoda Jon Li untuk tetap tertarik padanya dan tetap memberikannya uang seperti yang diinginkan. “Entar dong koh, aku masih mens. Lusa udah bersih kok.”

“Kayaknya elu mens terus, baru dua minggu lalu mens.”

“Si kokoh nggak ngerti perempuan, emang si enci gak kasih situ?”

“Nggak ada yang sejago elu Na.”

Erna tertawa senang, lalu berdiri. “Lusa koh,” Erna pergi sambil memberikan kecupan jauh menggoda.

 

Cerita Catherine

Catherine berpose seseksi mungkin. Kilatan lampu blitz menerpa wajahnya yang cantik sambil menebarkan senyum ke beberapa fotografer. Catherine sangat menikmati momen itu, senyumnya tak lepas. Sesekali rambutnya yang panjang dan bergelombang dikibaskan. Gerakan tubuhnya yang luwes justru makin menggilai fotografer untuk terus mengabadikan momen tersebut.

Catherine melambaikan tangannya lalu berhenti ketika beberapa wartawan infotainment menyodorkan microphone, itu tanda permintaan wawancara. Catherine berhenti dengan ramah. “Cath, mau konfirmasi dong soal foto bugil kamu yang menyebar di internet?”

Catherine tersentak kaget. Lalu dia melirik Ruben, manajernya, tanda meminta jawaban. Ruben langsung membuka i-Padnya untuk mencari jawaban.  “Hah? Foto bugil? Ngaco nih, aku nggak pernah foto bugil. Jangan ngegosip deh,” raut wajah Catherine berubah sambil menyeruak di antara wartawan infotaiment yang meminta jawaban. Ruben langsung mengambil inisiatif untuk berjalan di depan menyediakan jalan bagi artisnya.

Tak diidahkan panggilan wartawan yang berlari mengikutinya sambil mempertanyakan soal foto. “Apa benar Cath, foto itu diambil bekas pacar kamu Jimmy yang sutradara itu?”

Catherine langsung gemetar mengingat cerita percintaanya dengan Jimmy dua tahun lalu. Pikirannya langsung berputar dan baru menyadari ada satu momen dia melakukan hal gila dengan Jimmy. Catherine langsung pusing. Begitu  dilihat Alphardnya, Catherine langsung masuk ke dalam tanpa sepatah kata pun.

Ruben yang asik dengan i-Padnya langsung melotot kaget. “Cyiin, lihat nih berita foto bugil di internet,” Ruben menyodorkan i-Pad ke Catherine.

Dilihatnya tiga buah foto yang memperlihatkan tubuhnya yang kurus tanpa sehelai benang. Dengan latar temaram tubuh Catherine tak terlihat jelas meski siluet tubuhnya utuh tergambar. Pose yang pertama dirinya membelakangi kamera sambil berjongkok sehingga terlihat bokongnya yang menungging. Pose kedua dirinya berdiri menghadap kamera sehingga payudara dan alat vitanya terlihat meski dilindungi oleh kegelapan. Dan pose yang terakhir ketika dirinya sedang tiduran menyamping dengan gaya menggoda.

Catherine seperti kesetrum. Dia ingat dua tahun lalu kembali tergambar jelas setelah melakukan hubungan intim dengan Jimmy, Catherine mau saja ketika Jimmy memintanya berpose di kamar yang juga sekaligus studio. Berhubungan dengan Jimmy, Catherine merasa selalu dilindungi meski pada kenyataanya, sikap Jimmy yang sangat posesif justru membuatnya makin terjerumus ke dalam kehidupan labil.

Selama lima tahun berpacaran dengan Jimmy, karir Catherine sebagai artis nyaris amblas. Tak ada yang mau mengontraknya untuk bermain film dan sinetron. Pergi ke mana pun, Jimmy selalu mengawalnya. Hingga Catherine baru menyadari ketika pada suatu hari mereke bertengkar hebat. Pertengkaran mulut itu selesai ketika Catherine terjatuh dari tempat tidur dengan mulut berdarah. Jimmy langsung turun tempat tidur dan menarik Catherine dengan kasar lalu kembali memukulnya hingga terjerembab.  Bayangan kelam menghantui Catherine saat itu dan membuatnya berlari ketakutan keluar rumah dan langsung menginjak gas mobil dengan kencang meninggalkan rumah sewaan yang juga sekaligus production house independent yang dibuatnya berdua dengan Jimmy.

“Cyiin…” panggilan Ruben menghentakkan Catherine.

“Nggak usah elo jawab segala pertanyaan wartawan. Biar gue yang handle,” kata Ruben menenangkan.

Catherine menganggukkan kepala. Apakah Jimmy yang menyebarkan foto itu? Apa maksudnya? Apakah ini sebagai tanda untuk aku? Catherine merasa sudah tak ada lagi hubungan dengan Jimmy setelah dua tahun lewat.

“Apa mungkin Jimmy yang nyebarin Ben? Karena file itu ada di laptop yang gue tinggal dengan barang lainnya.”

“Apa maksudnya dia nyebar foto itu?”

“Mungkin aja dia sakit hati sama gue, karena gue tinggal tanpa pamitan.”

“Cyin, dengan memukul lo sampe babak belur itu sudah sebuah tanda pamitan secara verbal kalau elo nggak mau lagi hubungan sama dia. Apa dia masih kurang pake duit elo sampai ratusan juta rupiah? Segala barang berharga di rumah itu, dia yang ambil? Kalau nggak ada elo cyin, dia nggak makan. Kerja apaan? Sutradara nggak jelas, filmnya nggak pernah ada. Dia nggak bisa hidup senang kalau nggak sama elo, karena elo membiayai semua kebutuhannya selama lima tahun.”

Catherine terdiam seakan mengiyakan omongan Ruben. Setelah aksi pemukulan itu, dia langsung pulang ke rumah kontrakannya di Bintaro dan hanya membawa tas serta mobil  Honda Civic tahun 1997 miliknya satu-satunya. Catherine kembali mendatangi para produser dan sutradara untuk memakainya kembali di film serta sinetron mereka. Catherine rajin mendatangi acara yang banyak media dan membuatnya kembali muncul sehingga banyak orang yang meliriknya untuk diberikan pekerjaan hingga saat ini dirinya sudah memiliki apartemen dan Alphard hitam yang setia menemaninya beraktivitas.

“Cyin, telpon dari Lena. Dia ngejar dirimu terus nih,” Ruben menyodorkan ponselnya sambil melirik dengan arti.

Catherine menerimanya dengan suara ceria. “Iya sayaaangggg…. Gue balik ke apartemen sama Ruben nih, capek banget. Oke, ketemu di sana ya.”

Ruben menunggu Catherine membuka mulutnya, tapi malah terdiam. “Cerita cyiinnnn”

“Lena mau ke apartemen.”

 

Cerita Eva

“Ning kayaknya gue harus balik lagi ke Medan, ke Surya. Gue ngga punya duit,” Eva menghisap rokok.

“Elo mau ditendang, diinjek, dipukul Surya lagi?”

“Daripada gue jadi perek! Pusing gue cari kerjaan, susah banget di Jakarta,” Eva nyolot.

“Kemarin Nuri kasih kerjaan kenapa elo tolak? Apa aja kerjaanya yang penting halal.”

“Mana mungkin Ning dengan gaji segitu gue bisa hidup selama sebulan sama Andi. Belum ongkos, makan, bayar kontrakan. Lagian apa kata keluarga gue kalau gue kerja menjaga toko!!”

“Sekarang gue tanya, memang keluarga lo perduli sama elo? Malah mereka minta uang terus ke elo, harusnya mereka mengerti elo di sini nggak ada siapa-siapa, kerjaan nggak ada.”

Eva menghelanafas panjang. Wajahnya semakin semrawut. “Apa gue terima tawaran mami aja ya..” kata Eva pelan dengan pasrah.

Nuning langsung berdiri. “Elo mau jadi perek? Elo mau dipake sama Arab-Arab munafik itu?!”

“Toh, gue kemarin sudah melakukannya dengan Ahmed. Mereka baik, nggak kasar, nggak kayak di luarnya kok.”

“Aduh Eva, elo nggak sadar apa yang elo lakukan dengan Ahmed kemarin sudah membunuh janin diperut lo?!”

Eva menangis. “Jangan diungkit lagi Ning, gue sudah berdosa. Gue udah rusak, gue pusing, bingung. Gue nggak mau nyusahin elo, nyusahin orang lain. Lebih baik gue kembali aja ke Surya, memang ini sudah takdir gue. Besok gue telpon Surya untuk kirim tiket.”

“Terserah elo Va.  Itu hidup lo, cuma elo yang merasakannya.” Nuning sebel dan meninggalkan Eva dengan kegalauannya.

Dalam hitungan hari, Eva sudah kembali ke Medan. Anisa yang sebelumnya terlihat sangat membenci Eva, semakin mengacuhkannya. Anisa lebih banyak berada di kamar dan pergi ke luar bersama teman-temannya. Tak diacuhkan Eva yang sudah kembali ke rumah setelah selama dua bulan pergi meninggalkan rumah.

“Anisa, mama mau ngomong.”

Anisa cuma melirik cuek. “Mama sudah puas belum main di Jakarta? Kalau udah nggak duit, balik lagi ke papa gue.”

Eva menatap Anisa dengan sedih. “Kamu tahu situasinya sulit Nis, kalau mama punya duit pasti mama akan membawa kamu dan Andi ke Jakarta. Tapi ternyata mencari pekerjaan tak semudah yang mama kira.”

Anisa melirik perut Eva. “Lantas, kenapa perut mama kempes? Ke mana bayinya? Mama gugurin?”

“Sejak dari Medan, mama sudah melihat ada yang nggak beres. Air ketuban mama terus keluar, dan di Jakarta semakin habis. Dokter menyarankan kuret,” Eva menundukkan kepala tak kuat melihat mata Anisa yang menatapnya dengan curiga.

“Halah, pasti dari elo yang nggak kepingin bayi itu,” tiba-tiba Surya sudah berada di belakangnya dengan suaranya yang khas, provokasi sekaligus mengejek. Eva nyaris tersulut tapi dia mulai memahami karakter Surya dan diacuhkannya. Eva berjalan ke kamar menghindari Surya, tapi pria ceking itu malah mengikuti. Surya seakan ingin membuktikan dirinya masih bisa menjatuhkan Eva dengan ejekan serta penghinaan yang dia lontarkan.

“Enak nggak dikuret? Untung dulu Anisa nggak jadi kita kuret ya.”

Eva langsung naik pitam dan melempar gelas yang ada di depannya tapi Surya mengelak. Lalu gelas tersebut menyentuh tanah dengan suara nyaring. Eva terduduk pasrah. “Kenapa sih bang, elo suka banget nyakitin gue. Elo udah hancurin hidup gue, apa itu belum cukup?”

“Justru elo yang suka nyakitin gue. Elo pacaran di belakang gue, elo berzinah dengan laki-laki lain. Dari baru menikah gue tahu, elo tuh udah perek.”

Eva berusaha sabar. Wajahnya bersimbah air mata meminta pengertian Surya untuk tidak terus menyakitinya dengan kata-kata dan pukulan. “Demi Tuhan bang, dari dulu gue nggak pernah berhubungan dengan laki-laki mana pun. Gue setia, gue kayak gini sekarang karena elo. Anisa dan Andi itu anak kita berdua, bukan orang lain. Lihat kemiripannya sama wajahnya.”

“Jangan sok alim gitu lo!” Surya menjulek kepala eva keras sehingga eva hampir tersungkur.  Surya meninggalkan Eva yang menangis.

 

Cerita Erna

Erna tertawa terbahak-bahak menonton acara tv. Sambil mengemil kripik, Erna tergelak sehingga suaranya membahana di ruangan itu. “Berisik goblok!!” Erna terdiam melihat wajah Andi yang sangat marah di depan pintu kamarnya.

“Kapan elo pergi dari rumah ini??!!”

“Lha ini rumah gue?! Tanda tangani dulu baru gue akan jual rumah ini dan kita bercerai,” Erna melawan.

Andi diam, dia terlihat melunak. “Elo kasih duit bulan ini hasil dari penjualan rumah, baru gue tandatangani surat itu. Dan gue nggak akan melihat muka lo lagi!”

“Aku nggak mengerti mas, kenapa kamu jadi begini. Padahal sudah banyak aku korbankan supaya aku bisa menikah dengan kamu. Aku tidak dengarkan omongan ibu yang melarang menikah denganmu. Kenapa kamu tidak pernah menghargai aku sedikit pun. Aku masih cinta sama kamu mas.”

“Halah, kamu jangan lembek! Memangnya aku nggak tahu, siapa saja yang sekarang jadi pacar kamu. Cina brengsek itu, Rendra! Rudi! Kamu memang perek! Nggak bisa kamu dengan satu lelaki!”

“Ini karena kamu mas! Kamu tidak pernah menyentuh aku sedikit pun.”

“Jijik gue!” Andi membanting pintu dengan kasar.

 

Rudi tergeletak kelelahan. Wajahnya yang memerah semakin memudar, nafasnya memburu. “Hebat kamu,” katanya sambil memandang Erna yang sibuk mengenakan baju.

“Mau ke mana Na?”

“Gue janjian sama mertua. Mana om, amplopnya!”

Rudi menunjuk sebuah tas hitam. Erna merogoh dan mengambil setumpuk uang yang berada di amplop coklat. “Sampai nanti om!” Erna bergegas keluar kamar hotel meninggalkan Rudi.

 

 

Cerita Catherine

Catherine menyenderkan bahu serta tubuhnya di Lena, wanita yang berpenampilan bak pria. Berambut plontos,mengenakan kaus yang ditutupi kemeja dengan kancing terbuka, celana jeans serta sepatu kets. Lena mengusap-usap kepala Catherine dengan sayang. Keduanya terlihat begitu mesra. Lena juga menggenggam jari Catherine yang lentik, seakan ingin memberikan kedamaian. Catherine malah membenamkan kepalanya ke dalam dada Lena yang kempes.

“Tak bisa aku bayangkan tanpa kamu sayang. Kenapa Jimmy masih saja mengangguku, aku trauma jika mendengar namanya.”

Lena menghela nafas panjang. Sulit diucapkan oleh kata-kata kegundahan hatinya begitu menonton infotaiment pagi ini mengenai foto bugil Catherine. Foto itu sudah tersebar di internet dan menjadi konsumsi publik serta dimanfaatkan untuk menaikkan rating. Ingin rasanya Lena mendatangi semua kantor infotainment guna melindungi kekasihnya ini.

 

3 Perempuan 3 Cerita

Tiga perempuan itu saling berlomba memuntahkan asap rokok. Wajah ketiganya begitu menikmati setiap hentakan asap yang menyembur. Keheningan disela hisapan yang ditarik begitu kuat.

“Kamu sekarang sudah semakin sukses ,” wanita separuh baya itu terlihat masih cantik dengan wajah dipenuhi kerutan ketuaan memandang putrinya.

“Biasa aja,” anak  perempuannya yang berdandan perlente tak mengacuhkan pernyataan ibunya. Wajah mulus berkulit putih itu terlihat letih. Meski ditutupi make up tebal, wajahnya terlihat begitu gusar.

“Mama nggak mengerti, kenapa nama kamu jadi berubah? Ada apa dengan nama Anisa?” Wanita paruh baya itu, Eva memandang putrinya lekat-lekat. Dia menyadari ada yang berubah dari anak gadisnya dan itu tidak baik. Eva merasakannya, dia begitu takut dengan kenyataan.

“Anisa itu nama yang manis, seorang wanita islami, tidak seperti aku, sampah!” Suara Anisa getir, jantung Eva bergetar. Dia mulai meraba kesulitan yang dirasakan anaknya.

“Apa arti nama Chaterine? Apa dengan nama itu, kamu berubah menjadi wanita high class? Artis ternama? Sosialita paling cantik?” Eva begitu sulit memilah kata-kata untuk menghibur Anisa, tapi yang keluar justru kalimat yang mencerca.

“Anisa sudah nggak ada. Dia sudah tenggelam, sekarang hanya ada Catherine!”

Ruangan kembali hening. Eva memandang wanita satunya di sampingnya yang asik memainkan BlackBerry. “Ke mana suamimu Na?”

Erna mendongakkan wajahnya yang diisi dengan senyum. Lalu terdiam melihat keseriusan mertuanya. “Dia minta maaf gak bisa datang ma, hanya titip salam.”

Eva memandang Erna yang menurutnya ada sesuatu yang salah. Diliriknya lengan Erna yang membiru. Eva tahu itu hasil buah tangan anak  bungsunya, Andi. Eva menghela nafas panjang. Air matanya sudah mengering untuk kedua anak-anaknya. Kepergian Surya sekaligus mengubur masa lalunya.

“Ada apa mama kumpulin kita semua di sini? Aku ada meeting sebentar lagi, Ruben mau jemput,” Catherine memasang wajah jenuh.

“Mama mau memperkenalkan suami mama yang baru. Kalian sudah lama tidak ke sini, sepertinya sekarang saat yang tepat.”

Erna tertawa senang sambil memeluk mertuanya dan cipika cipiki. “Selamat ya ma. Mama pinter banget, masih  seksi deh. Bisa menggaet pria tajir dengan rumah mewah seperti ini. Ganteng dong ma?”  Tapi Catherine tidak perduli.

Eva tersenyum.”Dia begitu perhatian pada mama, dia menerima mama apa adanya, mama sangat bersyukur bisa bertemu dengannya.”

“Mana orangnya ma? “Erna celingak celinguk.

“Sebentar lagi datang, tadi kena macet. Dia punya satu anak, nanti sekalian datang.”

Tak lama bunyi mobil memasuki halaman, Eva tersenyum lalu berjalan ke luar. Terdengar suaranya yang ceria. Erna dan Catherine menunggu di dalam, kerutan kening memenuhi wajah keduanya. Eva tersenyum menggandeng dua orang yang begitu dikenal Erna dan Catherine.

“Erna, Anisa , ini kenalkan suami mama, Om Rudy dan anaknya Lena.”

Ke empat orang itu membeku satu sama lain. Saling memandang tanpa bergerak dengan wajah pias.

 

 

SELESAI

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

3-perem

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s