Ternyata, Gue Suka Kerja

blooggg

Gue baru sangat menyadari kalau gue ini suka banget kerja. Kayaknya, otak ini harus terus jalan, berfikir dan memberikan step by step apa yang harus gue lakukan setelah melakukan ini dan itu. Sebenarnya pernah sih temen sebut gue workholic ketika gue masih single, tapi setelah status berubah jadi ’emak’, sebutin itu sirna sudah.

Si bontot baru juga 2,2 tahun, tapi gue merasa ini waktunya gue melakukan sesuatu, bekerja!

Yup! Sejak melahirkan si bontot awal 2015 gue memutuskan untuk freelancer. Gue sekarang memang masih berstatus jurnalis di Tempo.co, tapi hanya kontributor alias freelancer.

Nah, sejak itu gue ngelaba menjadi media relation dan koordinator blogger. Jadi jika ada produk atau brand yang butuh promosi ke media atau blogger, gue yang handle.

Kerjaan gini sebenarnya udah lama banget gue tekuni, sejak awal gue menjadi wartawan di Harian Rakyat Merdeka. Mulai dari bantu-bantu temen yang bayarannya ‘terserah lu’, sampai kerja profesional yang bayaranya lumayan.

Ngelaba dari wartawan? Itu mah biasa, yang penting kerja utama gue nggak terbengkalai. Lagian media relation itu juga nggak setiap saat.

Baca Ini Juga :http://www.aliaef.com/2017/03/review-film-kong-skull-island-ada-yang.html:

Nah, sekarang ketika blogger lagi nge-hits dan gue sendiri nyemplung ke dalam, mulai gue hunting ke klien dan link gue selama jadi wartawan. Otak ini terus berputar siapa target yang bisa gue jadiin klien.

Beberapa bulan belakangan, ada beberapa temen yang mengajak untuk berkolaborasi. Gue selama ini, memang terbuka dengan siapapun yang ingin mengajak gue kerja bareng. Selama positif kenapa nggak.

Banyak temen yang ajak miting, di kafe ini, restoran itu, gue mah hayuk aja dengan harapan bukan PHP (pemberi harapan palsu). Mitingkan pake duit booo, ongkos, belum ngafe yang harganya nggak murcekan. Secara pemasukan bulanan nggak kayak duluuuuu, Lol

Tapi begitulah. Beberapa kali miting dengan beberapa teman, ada yang mandek, nggak ada kabar, atau lewat begitu aja dan ada yang nyangkut.

Ternyata, untuk membuat sebuah usaha, kita harus partneran sama orang yang statusnya sama kayak gue gini, freelancer. Pemasukan bulanan nggak jelas, nggak punya bos, nggak punya kantor. Kalau teman yang masih punya kerjaan inti, agak susah tuh kayaknya secara pikiran masih bercabang.

Akhirnya gue menggandeng sahabat gue sendiri yang sama-sama pernah jadi wartawan. Dia juga freelancer sebagai content writer dan ghostwriter.

Kita bareng mendirikan kantor ala-ala PR gitu, dikasih namanya aja kece Ratu Media Communications (RMC). Kita berdua adalah Ratu di bidang media dan komunikasi, ciee cieee, kira-kira begitu filosofinya.

aal-budut

Kita berdua sudah pernah menjadi trainer soal penulisan dan blogging. Nah, untuk media relation, beberapa kali ada perusahaan besar nih yang tertarik. Tapi lagi-lagi masih miting terus, belum fix. Tap gue udah happy banget, namanya mereka respon dengan tawaran proposal kita.

Gue inget banget, omongan teman yang juga membuat usaha begini. “Al, selama dua tahun gue bisa dibilang door to door mencari klien, akhirnya bisa seperti sekarang,” katanya yang sudah sukses sekarang ini.

Dapet klien! itu memang susah banget di tengah persaingan yang ketat.

Lalu bagaimana gue bisa mendapatkan klien?

Gue punya keyakinan sendiri. Begini:

Gue yakin, karakter, sifat, perlakukan dan hubungan baik itu mempengaruhi banget.

Alhamdulillah, sejak menjadi wartawan, narasumber memandang positif ke gue, teman-teman terbuka dan fun main sama gue. Selama ini gue selalu memandang orang positif, nggak berprasangka buruk, selama dia nggak nyowel gue, Insya Allah hubungan gue baik sama mereka.

Gue kasih conton begini.

Gue mendengar dari teman-teman wartawan kalau si A ini rese, nyebelin, ngeselin, sombong, dll. Sebagai bos dan produser dia itu otoriter. Praktis, yang lainnya ikutan sebel sama si A.

Kalau gue sendiri malah nggak. Selama si A nggak pernah nyowel dan rese-in gue, gue sih asik-asik aja sama dia. Gue tetap komunikasi baik, kadang kontak, dll. Dan ternyata, sikap gue seperti itu memberikan dampak baik.

Gue pernah mendapatkan job untuk membawa infotainment ke Bali untuk grandlaunching sebuah tempat hiburan kelas kakap. Yang punya konglomerat, bayaran gede dong. Nah, gue kontak si A minta turunin reporternya untuk meliput. Hasil liputannya kece, gue dikasih segmen lumayan banyak secara ratingnya besar.

See?

Begitu cara kerja gue untuk mendapatkan klien.

Memahami karakter orang. Ada orang yang suka pamer, big mouth dan merasa paling bener sedunia. Menghadapi orang seperti itu, kita cukup menjadi pendengar saja, bahkan kalau bisa puji aja terus pencapaian yang sudah dilakukan.

Menjilat? Nggak sih. Kalau memang dia melakukan itu, nggak ada salahnya dipuji, kalaupun dia pamer, memang sudah sifatnya dari sana, mau diapain lagi. Ngapain juga ikutan kesel sama dia. Selama dia nggak rese, kita asik-asik aja berteman.

Alhamdulillah, sampai sekarang job-job itu dapat dari teman sesama wartawan juga dan klien lama gue.

Tapi ada juga kok, tanpa gue tau kesalahannya apa, ada yang rese-in sampai gue dibilang yang nggak-nggak di antara teman. Dan beberapa ‘rejeki’ gue di cut sama dia (rejeki udah ada yang atur toh?). Nah, sama orang kayak gini mending gue mundur cantik. Intinya gue menjauhi konflik, kalau udah keterlaluan, baru gue tegor langsung.

Selain dengan RMC, ada teman lain juga mengajak membuat sebuah perusahaan agak-agak mirip RMC, tapi ini cakupan lebih luas karena dia sudah punya PT (ijin usaha). Cakupan luasnya misalnya event organiser. Ini, masih proses sih, nggak tau termasuk kategori PHP atau nggak, hahaha semoga nggak.

Karena gue suka banget sibuk bekerja, gue suka bergerak, suka mengatur, mengorganisir ini dan itu, ketemu klien, ketemu banyak orang dan berdiskusi. I Love Working actually! (walapun pikiran ini masih sering nyungsep ke rumah, alias mikirin anak, Lolls)

Nah, dengan banyaknya rencana kerja ini, gue happy banget. Gue seneng banget, hidup gue berguna, masih bisa aktulisasi diri.

Bukan berarti cuma menjadi ibu rumah tangga itu nggak berguna, itu sangat banget berguna. Tapi sepertinya jiwa gue bukan di situ. Kadang merasa dosa sih sama anak-anak, tapi gue mulai berfikir, gue bekerja demi mereka. Demi anak-anak gue untuk kehidupan lebih baik mereka. Ketika gue udah nggak ada, anak-anak gue nggak harus ngerepotin orang lain. Mereka mandiri karena gue, ibunya, sudah memberikan yang terbaik demi masa depan mereka. Udah gitu aja.

Semoga tulisan ini bermanfaat dan bisa memotivasi yang membacanya ya,
Wassalam
AAL

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s