Begini Suka Duka untuk Jadi Freelancer

freelancer

Jadi seorang freelancer sebenarnya udah terpikirkan lama, sejak 10 tahun lalu. Saat itu, sudah mulai menjajal berbagai bisnis, jadi kalau misal sudah settle, akan memilih resign dari kantor sebagai jurnalis di sebuah harian politik. Saat itu gue mau di rumah menjaga anak-anak yang masih kecil, nggak tega tiap hari pergi kerja anak nangis.

Lalu apa aja usaha yang sudah gue lakukan? Banyak genks…

1. Sewa lapak di mal. Waktu itu baru pindah beberapa bulan ke Serpong. Ada satu mal gue lihat selalu rame dan menjanjikan, gue pun niat akan dagang di situ. Dan mencari orang lain untuk menjaga setiap hari, dan gue masih tetap kerja.

Beli baju di Mangga 2. Semua gue kerjain sendiri dari belanja, dana dari tabungan dan memilih model baju yang sedang tren. Secara Mangga 2 – Serpong jauh, jadi belanjaan gue titip di rumah abang di kawasan Ancol. Dan si abang berbaik hati anterin ke rumah meski minta ganti uang bensin dan tol, Lols. Bisnis ini gagal, gue rugi, barang nggak laku, gue obral yang akhirnya gue kasih ke orang.

2. Dagang batik. Ini ketika batik belum tren seperti sekarang. Jadi gue join dengan sahabat gue yang tinggal di Jogja. Modal sama jumlahnya, dia bagian belanja, gue bagian dagangin. Kita di sini bener-bener terbuka, nggak ada yang ditutupin. Sebenarnya ini terbilang berhasil, keuntungan ada, udah balik modal. Tapi sayangnya, dia diminta suaminya untuk bantu di kantor suaminya itu. Gagal lagi.

3. Kantor PR. Ini berdua dengan seorang teman lama, dia juga wartawan. Selama ini terlihat kita berteman baik dan punya passion sama. Kerja dari rumah. Mulailah kita cari klien, Alhamdulillah gue dapat klien bagus dari perusahaan besar. Sebelumnya, ada PH film, tapi karena rate yang kita tawarin menurut dia besar, (karena kan bagi 2), dia menawarkan gue kerja sendiri. Memang sebelumnya, gue udah melakukan koordinator media sendiri, tapi gue kepingin yang pro. Mimpi kita berdua punya PT dan gaet perusahaan kakap. Tapi namanya dua kepala disatukan dan sama-sama egois, kita berantem. Proyek agak terbengkalai yang akhirnya gue selesaikan sendiri. Gagal lagi, dan gue kehilangan teman.

4. Dagang Tas. Awalnya gue jadi reseler tas impor, gue pinjem foto mereka lalu gue jual lagi. Mimpi gue (Gue emang a dreamer you knowwww..hahaha saking banyak mimpi gini nihh) punya tas sendiri dengan label gue. Nekat beli langsung pesen dari Cina, harga emang lebih murah, nggak taunya kena biaya pengiriman dan cukai jatohnya sama aja.

Lalu nekat ke Jogja, bikin tas dengan label nama sendiri. Yahhh gitu deh. Sebenarnya bisnis ini terbilang sukses, gue balik modal meski pernah ditipu 10 tas gue dibawa tanpa kabar. Lantaran gue saat itu sakit dan bedrest, bisnis ini gue tutup. Tas gue obral murah.

Dari semua itu di sela-sela gue mencoba mengirimkan proposal untuk menjadi penulis skenario atau sinopsis ke PH. Meski wartawan, ternyata nggak gampang genks, padahal gue udah lewat jalur produser dan sutradara. Ternyata mereka punya tim skenario sendiri, dan produser juga sutradara gak bisa otak-atim tim.

Dari semua bisnis di atas, gue lakukan ketika masih menjadi karyawan. Jadi kalau gagal, pikirannya penghasilan aman, karena ada gaji tiap bulan. Belum lagi sidejob.

The true of being a freelancer

Pada 2015, gue melahirkan anak ketiga. Gue merasa di sini sedang diuji, anak sakit, gue harus merawat dan gue memutuskan resign dari sebuah media besar. Tanpa ada persiapan, guepun resign meski sempet dilarang bos.

Gue hanya menjadi contributor journalist, hanya sesekali meliput dan setiap hari edit berita dari rumah. Pendapatan bener-bener beda banget, tergantung berapa banyak gue edit berita, secara sambil momong bayi tentu susah sesuai target. Apalagi nggak ada pembantu menginap, hanya pulper yang kerja sehari cuma 3 jam.

Di sinilah…mulai merasakan arti sebenarnya menjadi freelancer dan seorang ibu rumah tangga. Hohohoho….

Lagi-lagi gue nggak kapok ya untuk mencoba meski selalu gagal.

Bersama seorang teman yang juga mantan wartawan, gue kolaborasi bikin kantor PR dan kelas menulis. Yang butuh workshop penulisan, kita siaplah dipanggil. Alhamdulillah sih sempat ada dua tawaran untuk memberikan materi kelas menulis dan bayarannya lumayan. Cuma cas cis cus 2 jam, pulang dikepelin duit.

Untuk bisnis PR ala-ala, sempet beberapa kali miting sama klien besar, udah presentasi dan bikin konsep marketing. Namanya juga, manusia berencana tapi Allah yang menentukan, kolaborasi itu gagal genks. Tapi untungnya kita masih berteman baik kok.

Lalu sekarang dari mana penghasilan setelah jadi freelancer?

Jangan galau, untuk punya keahlian tertentu menjadi seorang freelancer bisa banget. Asal sabar, pro aktif, servis sebaik mungkin ketika dapat klien dan terus meningkatkan skill dan link.

Gue bersyukur juga, punya keahlian menulis dan menjadi PR ala-ala. Pernah menjadi wartawan memudahkan saya mendapatkan akses selebarnya ke teman-teman wartawan lain. Kebanyakan mereka mengajak saya untuk kolaborasi, saya selalu terbuka untuk ajakan kolaborasi asal memang sesuai dengan skill dan saya nyaman.

So…. ini tips untuk jadi freelancer:

1. Sebelum resign, yakinkan dulu apa skill lo untuk survive.
2. Ketika masih jadi karyawan dan yakin bakal resign, bikin aja dulu kartu nama untuk kerjaan lo nanti, disebarin, itung-itung kumpulin klien.
3. Kumpulin tabungan yang banyak. Namanya freelancer, pendapatan gak sama lagi dalam hal jumlah dan waktu. Siap-siap aja deg hati lo ketika melihat saldo tabungan cuma bisa beli kopi starbak, wkwkwkwk .
4. Kumpulin informasi sebanyak-banyaknya soal pekerjaan skill lo.
5. Dari pengalaman, dagang online lumayan. Padahal gue cuma dagang di Fesbuk, dan pembeli sampai dari Papua.
6. Kuatkan mental. Kalau lagi bokek, nggak ada uang, terpaksa harus irit. Tahan semua nafsu angkara mungkara sisa dari jaman ngantor dulu, mau beli apa aja gampang.

Keuntungan jadi Freelancer:

1. Bebas atur waktu
2. Bisa banyak menghabiskan waktu sama anak
3. Nggak beban lagi diuber-uber deadline dan tuntutan kerja yang bikin pusing, belum lagi kalau narsum susah banget dikontak, sedangkan deadline terus berjalan.
4. Bisa kenal tetangga
5. Bisa datang ke majlis taklim (kita semakin tua toh? Harus mulai mikirin akherat genks..)
6. Bebas traveling (salah satu tabungan menipis adalah keinginan gue traveling yang ketika kerja susah amat dilakuin. Tau-tau pas liat saldo, harus irit to the max).
7. Ketemu temen baru (ini bisa lho meluaskan link)
8. Lepas dari tuntutan bos yang cerewet dan ribet

Kerugian Jadi Freelancer
1. Keuangan menipis (kalau belum ketemu formulanya)
2. Nggak bisa dapet uang THR atau bonus kantor
3. Nggak bisa nge-gaul lagi, karena nge gaul kan butuh duit untuk ongkos dan ngopi cantik.
4. Tahan semua rasa iri melihat temen-temen di medsos kayaknya bahagia banget bisa traveling atas nama tugas kantor.

Ini tips gue kalau lagi gak ada job freelancer:

1. Irit pengeluaran
2. Main sama anak atau jalan seru (eh tapi kan butuh duit untuk bensin dan parkir, kalau sama anak susah nolak).
3. Menulis blog isinya apa aja terserah (menulis melegakan jiwa)
4. Stalking calon narsum, iseng-iseng colek kalau butuh bantuan untuk media relation atau penulisan.
5. Menawarkan diri untuk bantu kerja sosial/relawan. Sebenarnya gue mau melakukan ini, tapi infonya minim. Kalau ada yang butuh relawan dan gue bisa bantu, colek aja ya.

Kerja sosial itu bikin hati tenang genks, pernah sih mengajar anak pesantren fakir yang gak bisa baca itu rasanya gimanaaa gituuu…jadi merasa lebih bersyukur.

Tapi yang pasti gue lebih happy jadi freelancer dibanding ngantor. Gak kebayang untuk balik lagi ngantor deh, dengan segala aktivitas di jalan yang super duper macet dan lainnya. Soal duit, bisa dicari.

“Rezeki didapat bukan dari hasil kerja, kerja itu ibadah.”

Semoga Bermanfaat

AAL 

 

 

10 thoughts on “Begini Suka Duka untuk Jadi Freelancer

  1. Bener banget. Memang harus sabar dan hemat saat jadi freelancer. Tapi kalau sudah lama, kita akan terbiasa sendiri utk sabar dan hemat. Akhirnya duit pun ngumpul karena bingung mau dibeliin apa hehehe…..

  2. Hahaha kok tau aku suka ngiri liat temen yg traveling atas nama dinas kantor. Kok kayanya enak banget yaa

    Thanks sharingnya mbak, seru juga lika likunya

  3. Aku juga punya keinginan jadi freelancer, wkwk. tapi masih ragu, soalnya belum siap kalo pendapatan naik turun. bakalan balik ke blog ini lagi kalo kepikiran lagi jadi freelancer. hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s